Wakil Ketua Pansus BUMD Abdullah Abubakar
Klikwarta.com, Surabaya - Rapor merah Badan Usaha Milik Daerah Jatim dibeber Panitia Khusus DPRD. Wakil Ketua Pansus BUMD Abdullah Abubakar tak menutup-nutupi: ada BUMD yang hidupnya seperti “mati segan hidup tak mau”.
Temuan itu disampaikan Abdullah usai evaluasi mendalam kinerja BUMD, Senin (27/4/2026). Pansus membagi BUMD Jatim ke dalam tiga keranjang untuk menentukan langkah penyelamatan.
“BUMD tidak bisa dibiarkan jalan sendiri. Mereka butuh dorongan dan eksekusi nyata dari pemerintah selaku pemilik modal. Eksekutif harus punya awareness tinggi,” sentil Abdullah.
Politisi Fraksi PAN itu merinci, pemetaan berbasis kontribusi ke PAD dan kesehatan manajemen.
Pertama, BUMD yang running well dan rutin menyetor dividen besar ke APBD.
Kedua, manajemen cukup rapi, tapi ROA masih loyo.
Ketiga, Kinerja jeblok, butuh effort besar. Di kelas inilah istilah “mati segan hidup tak mau” muncul.
Pansus paling gusar pada rasio BOPO. Abdullah menemukan unit usaha dengan biaya operasional nyaris 100% dari pendapatan.
“Kalau BOPO setinggi itu, margin dan dividen habis. Ini tidak masuk akal secara bisnis. Harus dibedah, ada yang salah di proses bisnis atau akuntabilitasnya bocor,” tegasnya. (**)
Untuk BUMD yang tak lagi visibel tapi masih punya potensi, Pansus menyodorkan merger. Abdullah mencontohkan PT Cipta Husada sebaiknya bersinergi dengan RSUD dr. Soetomo atau RS Saiful Anwar, plus diguyur pembiayaan dari Bank Jatim atau Bank UMKM Jatim.
Puspa Agro juga tak luput dari radar. Pansus minta model bisnisnya berkaca pada Food Station yang terbukti moncer.
Anggota Komisi C itu mengingatkan, ranah dewan hanya legislasi, budgeting dan pengawasan. Rekomendasi tertulis akan diketok di Paripurna. Setelahnya, bola di kaki eksekutif.
“Kami hanya memotret dan memberi masukan. Eksekusi di tangan eksekutif. Lewat Komisi C kami akan kawal terus agar BUMD lebih akuntabel dan benar-benar bermanfaat bagi rakyat Jatim,” tutup mantan Wali Kota Kediri tersebut.








