Petugas Medis di Bireuen Mogok Massal

Kamis, 02/01/2020 - 20:03
Para petugas medis saat berada di pekarangan lingkungan Kantor Pemerintahan Kabupaten Bireuen

Para petugas medis saat berada di pekarangan lingkungan Kantor Pemerintahan Kabupaten Bireuen

Klikwarta.com, Bireuen - Ratusan petugas medis status pegawai kontrak di RSUD dr Fauziah Bireuen serentak menggelar aksi mogok kerja seraya meminta kejelasan terkait tindakan "diskriminatif" adanya beberapa pegawai level mereka yang memperoleh jatah "istimewa" dari pihak pengelola managemen.

Akibatnya, secara umum aktivitas penangan medis di Rumkit Daerah BLU itu sempat terhenti, malah hingga lumpuh total pada Kamis pagi 2 Januari 2020. 

Keterangnan yang dihimpun media ini menyebutkan, sekira dua ratus lebih pegawai honorer terdiri dari bagian tenaga rawatan, bidan, analis kesehatan, bagian farmasi, security, cleaning service, pendorong pasien, pendorong nasi, staf administrasi serta seluruh tenanga kontrak BLU RSU dr Fauziah Bireuen lainnya secara serentak menggelar aksi mogok kerja. Mereka menuntut pihak manajemen bersikap adil dan tidak bertindak diskriminatif terhadap mereka.

Seusai menyampaikan aspirasi ditempat kerjanya, mereka selanjutnya melakukan long march kekantor bupati dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer.

Menurut informasi yang bersumber dari orang dalam yang enggan namanya dituliskan, pemicu dasar yang membuat tenaga honorer kostum putih tersebut bereaksi adalah akibat ditemukannya enam pegawai honorer yang memperoleh pembayaran honor kontrak sebesar Rp 550 ribu per bulan.

Keenam honorer "spesial" dimaksud diisukan merupakan keluarga dekat pejabat pemkab dan pejabat teras di RSUD dr Fauziah. Dalam isu yang beredar diketahui mendapat jatah fasilitas istimewa dari pihak manajemen. Padahal, masa bakti mereka rata-rata baru dua tahun lamanya, sementara anggota lain yang rata-rata sudah bekerja hingga belasan tahun imbalan wajib saja tidak dilunasi.

Bobroknya sistem mengelola managemen terhadap Rumkit BLU milik Daerah Kabupaten Bireuen kali ini disinyalir awal terjadinya pemicu awal pegawai honorer beraksi mengharap keadilan dengan caranya. reaksi. Pasalnya, penerapan sistem upah remaunerasi yang mengubah pola pembayaran honor tenaga kontrak, menyebabkan penerimaan hak mereka menurun drastis nilainya.

5
Petugas Medis sedang berjalan kaki menuju kantor Bupati yang berjarak sekitar 3 kilometer dari lokasi RSUD dr Fauziah

Dari amatan media ini, sebanyak dua ratus lebih pegawai honorer medis itu awalnya sempat beraudiensi dengan Direktur RSU dr Fauziah dan para pejabat rumah sakit itu. Namun, karena gagal mendapatkan solusi yang diharapkan membuat mereka meneruskan aksinya dengan menggelar long march berjalan kaki melintasi jalan negara menjangkau kantor bupati yang jaraknya sekitar tiga kilometer.

Terlihat ratusan pendemo berkumpul beberapa kelompok di halaman kantor pusat Pemerintahan Kabupaten Bireuen. Beberapa orang dari mereka sebagai utusan delegasi berlanjut diterima pejabat Sekdakab Bireuen, di aula Bappeda. Dalam pertemuan tertutup saat itu diperbolehkan diliput awak media.

Seusai rapat tertutup berlangsung sekira hampir dua jam lamanya, Sekdakab Bireune Ir Zulkifli Sp yang dicegat wartawan ketika keluar aula menuju ruangan kerjanya menyatakan, pihaknya akan mencari solusi terbaik untuk menyahuti aspirasi para pegawai honorer medis ini.

”Kami nanti akan mencari solusi yang paling efektif, intinya tetap dengan sistem Remaunirasi,” begitu ungkap Sekda Zulkiflis singkat.

Sementara uraian pengakuan Direktur RSU dr Fauziah, dr Mukhtar MARS menjelaskan, bahwa menyangkut polemik pegawai honorer yang dituding keluarga pejabat berpengaruh serta mendapat kepedulian kesejahteraan istimewa ditegaskan tidak ada lagi mendapat prioritas apa-apa, malah setelah duduk rembuk bersama komite nantinya Mukhtar menjamin akan menghentikan pembayaran gaji status kontraknya mulai tahun 2020.

Perjalanan gelar aksi pegawai honorer RSUD dr Fauziah Bireuen beru reda dan terlihat para pengunjuk rasa bergerak pulang sikitar pukul 13.00 Wib siang. Keterangan dari sejumlah pegawai yang turut serta terlibat dalam tim delegasi memberikan penjelasan dari pengaruh aksi yang mereka gelar.

Dipaparkan, bahwa hari ini pelayanan rawat jalan berhenti total, karena para pegawai honorer yang bertugas melayani kartu dan administrasi, mengambil sikap ikut dalam aksi mogok. Dan mereka belum bisa memastikan, apakah aksi damai yang digelar berbuah manis atau memang mesti dilanjutkan dengan season lanjutan, semua itu tergantung dari  kesepakatan bersama. (Roes - Brn)

Berita Terkait