Modernisasi Posyandu untuk Capai Pelayanan Kesehatan

Jumat, 07/07/2023 - 17:49
Modernisasi Posyandu untuk Capai Pelayanan Kesehatan

Modernisasi Posyandu untuk Capai Pelayanan Kesehatan

Oleh : Miftah Dwi Kharunia 

Klikwarta.com - Laksana wujud peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan, Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dituntut untuk lebih responsif dan efektif dalam mengatasi berbagai permasalahan kesehatan masyarakat. Tidak hanya pelayanan kepada balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, melainkan remaja dan lansia juga menjadi sasaran strategis lainnya.

Posyandu merupakan kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh, dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Hal ini juga didasari oleh upaya pemerintah untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh kesehatan ibu dan anak.

Konsep Posyandu berkaitan erat dengan keterpaduan. Keterpaduan yang dimaksud meliputi aspek sasaran, aspek lokasi kegiatan, aspek petugas penyelenggara, aspek dana, dan lain sebagainya. Dahulu, Posyandu dikembangkan atas prakarsa Presiden Soeharto pada tahun 1984. Setiap bulannya, rakyat berbondong-bondong mendatangi Posyandu yang dikelola berbasiskan komunitas.

Mengutip dari Departemen Kesehatan, tujuan diselenggarakan Posyandu adalah untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi, anak balita, dan angka kelahiran; untuk mempercepat penerimaan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera); dan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan kesehatan dan lainnya yang menunjang sesuai dengan kebutuhan.

Sapta Krida Posyandu
Pada harusnya, Posyandu memiliki 7 kegiatan utama yang dikenal dengan istilah ‘Sapta Krida Posyandu’. Namun, hal ini kembali dari kesiapan masing-masing wilayah. Untuk mengetahui hal tersebut, pertama adanya kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Upaya kesehatan Ibu dan Anak ini menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi dan anak balita, anak prasekolah, serta pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.

Kedua, adanya kegiatan Keluarga Berencana (KB), merupakan upaya mengatur kelahiran anak, jarak, dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Hal lainnya mempromosikan penyusuan bayi sebagai upaya menjarangkan jarak kehamilan.

Ketiga, adanya kegiatan Imunisasi, merupakan upaya memberi kekebalan kepada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh untuk membuat zat anti sebagai pencegahan penyakit tertentu. 

Keempat, adanya kegiatan Peningkatan Gizi, meliputi pengukuran berat dan tinggi badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan gizi, dan pemberian suplemen.

Kelima, adanya kegiatan Penanggulangan Diare, di mana Posyandu melakukan penyuluhan untuk selalu menjaga kebersihan diri dan makanan. Selain itu menyedikaan oralit dan melakukan rujukan pada penderita diare yang menunjukkan tanda bahaya di Puskesmas.

Keenam, adanya kegiatan Sanitasi Dasar, yaitu meliputi upaya penyediaan air bersih, jamban sehat, pengelolaan sampah, dan saluran pembuangan air limbah. Ketujuh, adanya kegiatan Penyediaan Obat Esensial, merupakan penyediaan obat terpilih paling dibutuhkan yang mencakup upaya diagnosis, profilaksis, terapi, dan rehabilitasi.

Modernisasi Posyandu
Seiring kemajuan zaman dan teknologi, Posyandu dituntut untuk dapat lebih aktif seperti melakukan surveilans berbasis masyarakat, yaitu pengamatan dan pemantauan secara terus-menerus pada penyebab terjadinya masalah kesehatan di wilayahnya.

Hal ini membuat Posyandu perlu berbenah diri dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, agar tidak lekang oleh zaman. Kapasitas para kader harus ditingkatkan, sarana dan prasarana Posyandu perlu dipenuhi, serta mutu layanan perlu ditingkatkan.

Pasalnya, dengan hal tersebut pun diperlukan peran dan dukungan pemerintah tingkat daerah (Pemda), Puskesmas, dan tokoh masyarakat setempat kepada Posyandu, untuk memfasilitasi dan membina pelaksanaan berbagai kegiatan kesehatan yang dilakukan Posyandu.

Seperti Posyandu Bougenville II di wilayah Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi. Dalam kegiatannya, Ibu Sopiah selaku ketua Posyandu Bougenville II, menyampaikan rasa bahagianya karena telah dibantu pihak-pihak yang bersangkutan, seperti Puskesmas.

Selain dukungan berupa pembinaan dan fasilitas, Sopiah juga mengeluhkan kesiapan dari masing-masing kader Posyandu. Posyandu Bougenville II sendiri beranggotakan ibu-ibu penduduk setempat yang sudah lanjut usia. Hal ini pun menjadi rintihan petugas Puskesmas, karena dirasa sukar dan perlu waktu lebih dalam pembinaannya.

Dalam hal pendataan Ibu dan Anak yang dilakukan setiap bulan dan pengoperasiannya melalui platform online membuat kader Posyandu perlu pembinaan lebih untuk memahaminya. Petugas Puskemas yang masih milenial tidak bisa menyamaratakan pola ingatan yang sama dengan ibu-ibu lanjut usia.

“Harapan saya ketika regenerasi kepengurusan Posyandu dapat diperhatikan kesiapan para kadernya. Bukan hanya bagi yang mau saja, namun kiranya perlu diberikan tes terlebih dulu sebelum ditentukannya kepengurusan di masa mendatang. Dan rasanya kegiatan sosial ini perlu lebih banyak tenaga yang diberikan dari anak-anak muda setempat,” papar Sopiah.

Pernyataan tersebut dapat menjadi perhatian lebih bagi tokoh masyarakat, lingkungan kelurahan dan kecamatan, sekalipun pemerintah tingkat daerah (Pemda) dalam perekrutan kader di tiap wilayah Posyandu.

Tentunya tantangan yang dihadapi Posyandu di zaman modern ini bukan hal yang ringan. Posyandu menjadi salah satu gerakan untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia yang ditujukan sebagai Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM), sehingga tumbuh berkualitas dan mencapai kesejahteraan hidup yang maksimal. (MDK)

Berita Terkait