Mendiktisaintek Brian Yuliarto
Klikwarta.com, Jakarta - Kemandirian energi nasional membutuhkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, mulai dari pengembangan material hingga pembangunan industri dalam negeri. Perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia usaha perlu memperkuat kolaborasi agar hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi teknologi dan produk, yang mendukung kebutuhan energi Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dalam Energy Leadership & Business Conference (ELBC) 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo), di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jumat (30/10).
Dalam paparannya, Mendiktisaintek menekankan bahwa kebutuhan pengembangan energi terbarukan di Indonesia, perlu diikuti pembangunan industri pendukung di dalam negeri. Target pengembangan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya sebesar 100 GW, sebagaimana disampaikan dalam paparannya, akan membutuhkan investasi dan rantai pasok yang besar.
“Tidak mungkin kita memiliki proyek sebesar itu tanpa membuat industri. Jadi, kami dari sisi regulator atau pemerintah, kami dari sisi peneliti bersama BRIN, tentu berharap munculnya industri yang menggunakan teknologi yang ditemukan baik oleh BRIN maupun perguruan tinggi dan peneliti lainnya,” ujar Menteri Brian.
Mendiktisaintek menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting, dalam menghasilkan riset fundamental dan kekayaan intelektual (intellectual property). Namun, pengembangan hasil riset hingga menjadi produk industri membutuhkan keterlibatan pelaku usaha. Pada tingkat kesiapan teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) 6–7, industri diharapkan mulai mengambil peran dalam pengembangan dan penerapan teknologi.
Selain teknologi energi bersih, Mendiktisaintek menyoroti potensi sumber daya mineral Indonesia, termasuk nikel, timah, emas, dan logam tanah jarang (rare earth). Potensi tersebut perlu didukung penguasaan teknologi pengolahan, pemisahan, dan pemurnian agar menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah pengembangan teknologi pengolahan logam tanah jarang. Mendiktisaintek menyebut Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama BRIN, dan peneliti perguruan tinggi, tengah bekerja untuk mengembangkan proses pengolahan bijih menjadi mixed rare earth atau campuran logam tanah jarang.
“Kami, peneliti dari perguruan tinggi bersama BRIN, sedang bekerja keras. Bulan depan kita akan membangun satu pabrik untuk mengubah ore menjadi mixed rare earth. Jadi masih campuran, tetapi pengotornya sudah dihilangkan,” ungkap Menteri Brian.
Pengembangan tersebut memperlihatkan pentingnya keterhubungan antara kapasitas penelitian dan kebutuhan industri. Perguruan tinggi berperan dalam pengembangan pengetahuan dan teknologi, BRIN mendukung penguatan riset hingga tahap pengembangan lebih lanjut, sedangkan industri menjadi mitra yang membawa teknologi menuju penerapan dan produksi.
Mendiktisaintek menegaskan, penguatan ekosistem kolaborasi ini juga relevan dengan arahan Presiden Republik Indonesia terkait agenda pengembangan teknologi nasional, termasuk pengembangan bahan bakar E50 dan Chip Merah Putih. Kemdiktisaintek mendorong agar perguruan tinggi dan peneliti, dapat berkolaborasi dengan industri untuk menghasilkan solusi teknologi yang menjawab kebutuhan strategis Indonesia.
“Jadi ini yang kita harapkan, kita ingin terobosan-terobosan yang banyak bisa dihasilkan. Dan sekali lagi, perguruan tinggi, BRIN, dan industri ini menjadi kunci lahirnya industri berbasis sains dan teknologi di Indonesia,” tegas Menteri Brian.
Forum ELBC 2026 mempertemukan pimpinan industri, pengambil kebijakan, investor, dan inovator untuk membahas transisi energi, efisiensi bisnis, serta kepemimpinan berkelanjutan.
Melalui penguatan riset, hilirisasi, dan kolaborasi dengan dunia usaha, Kemdiktisaintek terus mendukung upaya kemandirian energi, sekaligus mendorong tumbuhnya industri masa depan yang memanfaatkan potensi sumber daya dan kemampuan inovasi Indonesia.
(Kontributor : Arif)








