Kepri dan NTT Jalin Sinergi untuk Kendalikan Inflasi dan Perkuat Ketahanan Pangan

Selasa, 12/05/2026 - 18:54
Kepri dan NTT Jalin Sinergi untuk Kendalikan Inflasi dan Perkuat Ketahanan Pangan

Kepri dan NTT Jalin Sinergi untuk Kendalikan Inflasi dan Perkuat Ketahanan Pangan

Klikwarta.com, Kepri - Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menerima kunjungan kerja Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, di Gedung Daerah, Tanjungpinang,  Pertemuan ini membahas kerja sama antar daerah dalam memperkuat stabilitas inflasi dan ketahanan pangan, sekaligus menjadi ajang studi banding Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTT ke Provinsi Kepulauan Riau.Senin : 11/05/2026.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT, Adidoyo Prakoso, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepri, Rony Widijarto, serta sejumlah kepala OPD dari kedua provinsi.

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan bahwa Kepri dan NTT memiliki banyak kesamaan karakteristik daerah yang bisa menjadi landasan untuk membangun kerja sama yang lebih nyata ke depannya.

"Dengan berbagai kesamaan dan kondisi yang dimiliki oleh Kepulauan Riau dan NTT, kita bisa saling menukarkan kelebihan dan kekurangan untuk membangun kerja sama yang konkret di kemudian hari," ujarnya.

Emanuel memaparkan bahwa NTT saat ini memiliki 21 kabupaten dan 1 kota dengan kondisi pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang relatif terjaga. Inflasi NTT masih berada di bawah tiga persen dan masuk kategori aman berdasarkan indikator Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan.

"Pertumbuhan ekonomi NTT tahun 2025 berada di angka 5,14 persen, sementara pada triwulan I tahun 2026 meningkat menjadi 5,32 persen," jelasnya.

Ia menyebut Kota Kupang dan Kabupaten Manggarai Barat sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi NTT. Namun menurutnya, masih banyak daerah lain yang perlu didorong agar pertumbuhan lebih merata di seluruh wilayah.

"Kami ingin banyak pusat pertumbuhan baru tumbuh di setiap kabupaten dan kota sesuai potensi masing-masing daerah. Tidak perlu semua daerah memiliki sektor yang sama," ungkapnya.

Di sisi lain, Gubernur Ansar Ahmad memaparkan berbagai potensi strategis Kepri, mulai dari sektor kelautan dan perikanan, pariwisata, hingga investasi. Ia menyebutkan Kepri memiliki luas wilayah laut mencapai 417 ribu kilometer persegi, bahkan melampaui luas wilayah Malaysia, serta kawasan konservasi perikanan budidaya seluas 2,9 juta hektare.

"Potensi hasil tangkapan perikanan Kepri mencapai 1,3 juta ton dengan berbagai komoditas unggulan seperti cumi-cumi, ikan demersal, ikan karang, lobster hingga udang," kata Ansar.

Dari sisi pariwisata, Kepri menjadi salah satu dari tiga pintu masuk wisatawan mancanegara terbesar di Indonesia, bersama Bali dan DKI Jakarta. Kepri juga dikenal sebagai destinasi wisata olahraga internasional dan memiliki kawasan pariwisata unggulan di Lagoi, Kabupaten Bintan, serta terus mengembangkan konsep cross border tourism bersama Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Ansar turut menyoroti potensi wisata halal Pulau Penyengat di Tanjungpinang yang telah meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.

Pada sektor investasi, Kepri memiliki sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang menjadi penggerak ekonomi daerah. Di antaranya KEK Galang Batang yang bergerak di industri smelter bauksit dengan realisasi investasi mencapai Rp21 triliun hingga akhir 2024. Selain itu, KEK Batam Nongsa Digital Park berkembang sebagai pusat teknologi informasi dan pengembangan kecerdasan buatan yang menghubungkan Indonesia dengan Singapura dan pasar global, termasuk menjadi lokasi data center Indonesia.

Ansar juga mengungkapkan bahwa inflasi Kepri pada April 2026 tercatat sebesar 3,06 persen. Kepri sebelumnya berhasil meraih TPID Award 2024 sebagai TPID provinsi berkinerja terbaik di Sumatera.

"Pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan I tahun 2026 tumbuh 7,04 persen secara year on year. Ini menempatkan Kepri di peringkat pertama di Sumatera dan peringkat kelima nasional," jelasnya.

Angka kemiskinan di Kepri pun terus menunjukkan tren penurunan, hingga berada di angka 4,26 persen pada September 2025, menjadikannya yang terendah di Sumatera dan peringkat keempat terendah secara nasional. Adapun IPM Kepri tahun 2025 mencapai 80,53 dan menjadi yang terbaik di luar Pulau Jawa.

Gubernur Ansar juga menyampaikan capaian Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Kepri tahun 2025 sebesar 83,68 poin, meningkat dibanding tahun sebelumnya dan menempatkan Kepri di posisi tiga besar regional Sumatera.(*)

Berita Terkait