Menag Nasaruddin Umar
Klikwarta.com, Jakarta - Pemerintah memperkuat langkah terpadu dalam merespons peningkatan tantangan kesehatan jiwa anak dan remaja. Hal ini dibahas bersama dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Pertemuan ini menghasilkan komitmen bersama dalam kerangka “Program Bersama 9 K/L” untuk memastikan penanganan yang lebih terintegrasi, sistematis, dan berkelanjutan.
Menteri Koordinator PMK Pratikno menekankan pentingnya penguatan koordinasi lintas sektor agar respons pemerintah tidak lagi bersifat parsial atau reaktif, melainkan menyentuh aspek promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif secara menyeluruh.
Kementerian Agama mengambil peran strategis dalam penguatan promosi, edukasi, deteksi dini, serta penciptaan lingkungan pendidikan dan komunitas yang aman dan inklusif. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan kesiapan jajarannya untuk mengoptimalkan ekosistem pendidikan keagamaan sebagai ruang tumbuh yang sehat bagi anak.
“Kemenag memiliki infrastruktur sosial dan pendidikan yang luas. Dengan puluhan ribu madrasah dan pesantren, guru Bimbingan Konseling, serta ratusan ribu rumah ibadah, kami siap berkontribusi dalam sistem deteksi dini dan dukungan berbasis komunitas,” ujar Menag.
Menurutnya, lembaga pendidikan keagamaan memiliki modal sosial berupa kedekatan emosional, pembinaan karakter, dan praktik kebersamaan yang terstruktur. Hal tersebut menjadi faktor penting dalam membangun rasa aman dan ketahanan diri anak.
“Berdasarkan survei yang ada, masyarakat melihat madrasah dan pondok pesantren sebagai lingkungan yang relatif aman dan nyaman. Ini adalah kepercayaan yang harus kita jaga dengan penguatan sistem dan pengawasan,” tambahnya.

Menag juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya guru BK di madrasah dan pesantren. Ia mengusulkan adanya standardisasi dan pelatihan berkelanjutan bekerja sama dengan kementerian terkait.
“Guru BK memiliki peran strategis dalam mengenali perubahan perilaku anak. Namun untuk persoalan yang bersifat klinis, diperlukan sinergi dengan tenaga profesional seperti psikolog dan tenaga medis,” jelasnya.
Karena itu, Kemenag mendorong pesantren berkapasitas besar untuk melengkapi layanan internalnya dengan dokter, perawat, dan psikolog guna memastikan penanganan yang komprehensif. Langkah ini sekaligus memperkuat komitmen menghadirkan lingkungan pendidikan yang ramah anak dan bebas dari kekerasan.
Menag menegaskan bahwa pendekatan spiritual yang diajarkan secara tepat dapat menjadi sumber resiliensi bagi anak dan remaja dalam menghadapi tekanan kehidupan.
“Pembinaan spiritual yang terorganisir membentuk kohesi nilai dan ketahanan pribadi. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang suportif dan penuh kasih akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan zaman,” pungkasnya.
(Kontributor: Arif)








