Tradisi Mamasu Danon

Senin, 20/06/2022 - 15:44
Sungai Aek Siraisan tempat biasa diadakan Tradisi Mamasu Danon. (Sumber: Dok. Pribadi)

Sungai Aek Siraisan tempat biasa diadakan Tradisi Mamasu Danon. (Sumber: Dok. Pribadi)

Oleh: Sri Latifah Nasution

Pernikahan adalah hal yang sakral bagi kedua mempelai. Setiap daerah punya tradisi pernikahan yang berbeda-beda, salah satunya adalah tradisi di Padang Lawas, Sumatra Utara. Satu hari sebelum digelar pesta pernikahan, akan diadakan tradisi Mamasu Danon. Mamasu Danon adalah tradisi mencuci beras yang akan dimasak saat pesta pernikahan ke sungai yang aliran airnya cukup deras secara beramai-ramai.

Kebetulan ada salah satu warga yang akan menikah dan mengadakan pesta yang cukup besar. Remaja-remaja desa diundang untuk ikut dalam tradisi Mamasu Danon tersebut. Aku bersama beberapa temanku pun menuju ke rumah si pemilik acara. Saat tiba di sana, sudah ada dua truk yang terparkir dan beberapa orang sedang menaikkan karung berisi besar ke truk. Remaja yang datang ke titik kumpul belum banyak. Kami masih harus menunggu sambil duduk di kursi plastik yang sengaja di jejerkan di depan rumah pemilik acara.

Tidak butuh waktu lama, remaja-remaja desa sudah berkumpul. Setelah dipersilakan, kami pun menaiki truk yang akan membawa kami ke sungai tempat mencuci beras nantinya. Suasana di dalam truk begitu sesak, ditambah beras yang hampir mencapai 15 karung. Tapi kami tidak mempermasalahkan itu. Perjalanan dihabiskan sambil bercanda bersama, sesekali berteriak karena sopir truk yang menambah kelajuan truknya.

Sampailah kami di sungai tempat kami akan mencuci beras. Nama sungainya adalah Aek Siraisan. Diameter sungainya cukup lebar, ditambah aliran air jernih yang memperlihatkan dasar sungai. Kami segera turun dari truk dan membiarkan kaum laki-laki yang menurunkan beras dari atas truk.

Satu per satu saringan pencuci beras kami ambil dan serahkan ke petugas yang menjaga beras-beras tersebut. Dia mengisi saringan-saringan kami dengan beras, kemudian kami membawanya ke sungai untuk dicuci. Kami harus berhati-hati berjalan di aliran sungai karena batu-batu di dasarnya yang licin dan ada beberapa yang tajam. Beberapa kali aku hampir terjatuh karena salah memilih batu yang akan dijadikan pijakan.

Setelah beras di saringan bersih, kami memasukkannya ke dalam karung yang baru dan kembali memberikan saringa tersebut ke petugas untuk diisi kembali. Begitu seterusnya. Karena banyak yang ikut membantu, pekerjaan mencuci beras tersebut menjadi lebih cepat. Setelahnya kami diberi kesempatan untuk sekadar bermain air di sungai tersebut. Beberapa ada yang menyewa ban pelampung agar bisa bermain di area yang lebih dalam.

Selepas bermain, kami diberikan bungkusan berupa nasi beserta lauk-pauknya. Dengan baju yang masih basah, kami mencari tempat duduk untuk makan bersama. Nasi tersebut berasal dari pemilik pesta sebagai tanda terima kasih telah membantu acara mereka.

Selesai makan biasanya kami masih diberikan waktu untuk bermain sebentar lagi sebelum diajak pulang. Kami pulang dengan kondisi basah karena tidak ada yang membawa baju ganti. Jarak dari desa kami ke sungai tersebut memang cukup jauh, sehingg baju kami akan kering dengan sendirinya karena diterpa angin dari laju truk yang membawa kami sepanjang perjalanan.

Tradisi ini mengajarkan untuk saling bekerja sama dan juga tidak melupakan masyarakat sekitar kita kala kita sedang bersuka cita karena sesuatu hal. Karena jika ada sesuatu yang terjadi pada kita, masyarakat sekitar lah yang akan membantu kita lebih dulu ketimbang keluarga yang ada di daerah yang berbeda dengan kita. (*)

Berita Terkait