FGD di Bantur Bahas Ketahanan Informasi, Warga Diingatkan Tak Mudah Percaya Hoaks
Klikwarta.com, Malang - Derasnya arus informasi di era digital membuat masyarakat dituntut semakin kritis dalam menerima berbagai kabar yang beredar di media sosial.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama anggota DPRD Kabupaten Malang yang digelar di Pendopo Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Rabu (16/9/2026).
Surat undangan resmi Pemerintah Kabupaten Malang Kecamatan Bantur Nomor: 000.1.5/ /35.07.03 /2026 tertanggal Bantur, 14 September 2026 yang ditandatangani Camat Bantur Bayu Jatmiko, S.STP.
FGD tersebut mengangkat tema “Membangun Ketahanan Informasi Masyarakat melalui Penguatan Literasi Digital di Kecamatan Bantur.”
Kegiatan itu diikuti berbagai unsur masyarakat, mulai dari anggota DPRD Kabupaten Malang, jajaran Kecamatan Bantur, kepolisian, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), kepala desa se-Kecamatan Bantur, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, tokoh pemuda, organisasi kemasyarakatan, media, konten kreator hingga masyarakat umum.
Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Malang yang hadir antara lain Sodikul Amin dari Fraksi NasDem, Feri Andi Sueseko dari Fraksi Gerindra, Hadi Mustofa dari Fraksi Demokrat, serta Abdul Aziz dari Fraksi PKS.
Dalam kegiatan tersebut, Sodikul Amin menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat agar tidak menjadi sasaran penyebaran informasi palsu atau hoaks.
Menurut dia, kemampuan literasi digital bukan sekadar persoalan bagaimana seseorang menggunakan perangkat teknologi dan media sosial. Lebih dari itu, masyarakat perlu memiliki kecakapan untuk memahami, memeriksa, memilah, serta menyaring informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
“Teman-teman kepala desa se-Kecamatan Bantur beserta tokoh masyarakat di masing-masing desa hadir, didampingi ketua BPD, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, termasuk para ibu dari Muslimah, sahabat-sahabat Fatayat, teman-teman Ansor, konten kreator dan media,” ujar Sodikul dalam kegiatan tersebut.
Ia menyebut, keterlibatan berbagai elemen masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan informasi di tingkat kecamatan hingga desa.
Sodikul mengatakan, forum diskusi tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk bertukar pandangan mengenai tantangan masyarakat dalam menghadapi derasnya informasi di era digital.
“Kesempatan ini menjadi ruang diskusi berkaitan dengan bagaimana masyarakat, khususnya yang ada di Kecamatan Bantur, mampu memilah, menerima, dan menyaring sebuah informasi maupun berita,” katanya.
Sodikul mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai informasi yang diterima melalui media sosial. Terlebih, saat ini informasi dapat menyebar dengan sangat cepat hanya melalui satu kali unggahan atau pesan berantai.
Ia meminta masyarakat membiasakan diri melakukan verifikasi sebelum meneruskan sebuah informasi kepada orang lain.
“Jangan sampai kita termakan berita hoaks. Kita harus benar-benar bisa menyaring informasi di media sosial, mana berita hoaks dan mana berita yang sesuai fakta,” tegasnya.
Menurut dia, masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat. Setiap warga, kata dia, dapat berkontribusi dengan tidak ikut menyebarluaskan informasi yang belum diketahui kebenarannya.
Selain masyarakat, peran pemerintah desa, tokoh masyarakat, pemuda, media dan konten kreator juga dinilai penting dalam memberikan edukasi mengenai penggunaan media sosial secara bijak.
Dalam kesempatan tersebut, Sodikul juga memperkenalkan latar belakang daerah asalnya, yakni Pujon. Ia menyebut Pujon sebagai salah satu daerah penghasil susu sapi di Jawa Timur.
Menurut dia, berbagai potensi daerah juga membutuhkan penyampaian informasi yang baik agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, penguatan literasi digital dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi, tetapi juga harus mampu menjadi penyaring sekaligus penyampai informasi yang bertanggung jawab.
Melalui FGD tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat Kecamatan Bantur dalam bermedia sosial semakin meningkat. Warga juga diharapkan lebih berhati-hati dalam menerima informasi, terutama informasi yang sumbernya tidak jelas dan berpotensi menyesatkan.
Dengan kemampuan memilah dan memverifikasi informasi, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh kabar bohong serta dapat ikut menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
(Edy)








