Ilustrasi. AI
Klikwarta.com, Timur Tengah - Memasuki hari ke-13, Kamis (12/3/2026), perang Iran melawan aliansi Israel dan Amerika Serikat (AS) semakin menggila. Intensitas serangan dari kedua pihak terus meningkat, memicu kekhawatiran bahwa konflik ini telah memasuki fase paling berbahaya.
Sejak dini hari, Iran kembali meluncurkan gelombang serangan besar menggunakan rudal balistik dan drone tempur. Sejumlah wilayah di Israel dilaporkan diguncang ledakan, sementara sirene peringatan berbunyi hampir tanpa henti.
Serangan juga menyasar pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, menunjukkan bahwa Iran masih memiliki daya gempur yang signifikan meski terus digempur.
Serangan Balasan
Tak tinggal diam, Israel dan AS langsung membalas dengan operasi militer besar-besaran. Serangan udara intensif dilaporkan menghantam berbagai target strategis di Iran, termasuk fasilitas peluncur rudal, gudang amunisi, hingga pusat komunikasi militer.
Beberapa laporan menyebutkan kerusakan besar terjadi di sejumlah instalasi penting, menandakan tekanan militer terhadap Iran semakin meningkat.
Namun, di tengah gempuran tersebut, Iran tetap menunjukkan perlawanan sengit dan tidak menunjukkan tanda-tanda melemah.
Konflik Melebar, Front Perang Bertambah
Situasi kian mencekam setelah konflik meluas ke berbagai titik di kawasan. Dari Lebanon, kelompok Hizbullah kembali meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel utara, memicu kekhawatiran perang multi-front.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan Teluk meningkat drastis. Ancaman terhadap kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz membuat jalur distribusi minyak dunia berada dalam kondisi rawan.
Dunia Mulai Terpukul
Dampak perang kini terasa semakin luas. Harga energi global terus melonjak, sementara pasar keuangan bergejolak akibat ketidakpastian.
Sejumlah negara mulai mengeluarkan peringatan darurat bagi warganya di Timur Tengah, bahkan mengevakuasi staf diplomatik dari wilayah rawan konflik.
Hingga Kamis malam, belum ada tanda-tanda konflik akan mereda. Justru sebaliknya, pola serangan yang semakin intens menunjukkan perang berpotensi berlangsung lebih lama dan meluas.
Seruan gencatan senjata dari dunia internasional belum membuahkan hasil. Banyak pihak kini khawatir, jika situasi ini terus berlanjut, Timur Tengah bisa terseret ke dalam perang besar yang lebih luas, dengan dampak global yang tak terhindarkan. (*)








