Ilustrasi
Klikwarta.com, Malang - Observasi BPCB Jatim di lereng Gunung Arjuno, tepatnya di Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, direspon positif oleh warga setempat.
Observasi itu sendiri dilakukan Wicaksono, arkeolog BPCB Jatim, dan diikuti Bondan Jawan dari pemerhati budaya serta Kepala Desa Tulungrejo Muliadi.
Ada 4 lokasi observasi, yaitu batu bata kuno diduga candi di Dusun Gagar, batu bata kuno bertuliskan tahun di Dusun Gagar, arca kuno di Dusun Ganten, dan lumpang di Dusun Gagar.
"Kita punya identitas sendiri, peradaban para leluhur kita, disitulah kita belajar, kenapa desain bangunannya seperti ini, kenapa bangunannya ada disini, itu perlu kajian," kata Bondan (Selasa,10/3/2020).
Menurutnya, orang jaman sekarang bisa mengetahui ilmu pengetahuan dari para leluhur, dari pengetahuan itulah bisa dikembangkan, berdasarkan bukti otentik dan sejarah.
"Dulu teorinya A, kalau sekarang bisa dikembangkan A kuadrat atau A pangkat 3. Ilmu pengetahuan dari para leluhur itu kita yang tersembunyi di situs-situs, kita kembangkan untuk menghadapi era globalisasi saat ini," lanjut Bondan.
Terkait korelasi observasi dengan warga setempat, Bondan berpendapat Desa Tulungrejo memiliki potensi besar yang berhubungan dengan perjalanan sejarah.
Dikatakannya, Tumapel berada di bawah pemerintahan di Kediri, lalu muncul sosok Ken Arok, dan Ken Arok didukung oleh para Brahmana.
Ia menambahkan, tanpa dukungan para Brahmana, Ken Arok kesulitan menghadapi serbuan Kertajaya atau disebut dalam Kitab Pararaton dengan nama Raja Dhandang Gendis.
"Harapan saya kepada warga disini, bisa memgembangkan potensi disekitarnya, pembangunannya, sumber dayanya. Tulungrejo ini dulunya sangat maju, kalau tidak maju, tidak mungkin ada situs-situs yang kita lihat itu," ujar Bondan.
Sementara itu, Wicaksono berpesan kepada warga, agar segera melaporkan segala bentuk atau jenis benda yang diyakini warga berstatus purbakala, kepada BPCB.
"Kalau ada warga yang mengetahuinya, saya harap cukup dibersihkan tanahnya saja, jangan dipindah, jangan digeser, karena ini berkaitan dengan kearkeologian," jelas Wicaksono. (dodik)








