Bupati Trenggalek Tanam Pohon di Kali Temon

Senin, 10/01/2022 - 15:55
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, saat menanam pohon di Desa Wisata, Kali Temon, Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, Senin (10/1/2022).

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, saat menanam pohon di Desa Wisata, Kali Temon, Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, Senin (10/1/2022).

Klikwarta.com, Trenggalek - Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin tanam pohon di Desa Wisata Kali Temon, Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek,Kabupaten Trenggalek, Senin (10/1/2022).

Penanaman pohon ini dilakukan sebagai wujud kompensasi atas emisi gas karbon yang dihasilkan dari setiap aktivitas manusia.

Kompensasi atau kewajiban donasi penanaman pohon ini, rencananya akan diwajibkan kepada seluruh warga masyarakat yang ada, guna menyikapi perubahan iklim yang terjadi saat ini. Sekaligus sebagai upaya mitigasi kejadian bencana yang lebih besar.

"Hari ini kita memperingati hari penanaman sejuta pohon sedunia, sekaligus kita mensosialisasikan surat edaran Bupati terkait dengan kewajiban donasi bambu bagi seluruh masyarakat Trenggalek," ungkap Bupati Arifin, usai menanam pohon.

"Kemudian diatur jenis tanaman nanti dialokasikan di mana sesuai dengan vegetasi kebutuhan lingkungannya selanjutnya juga sampai jumlah pohon yang harus ditanam. Seperti Bupati wajib satu tahun tanam 50 pohon, wakil bupati 40, kemudian Sekda, OPD, sampai masyarakat umum, setidaknya kita himbau setiap orang menanam 1 pohon setiap tahunnya," imbuhnya.

Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi satu perubahan iklim, bagaimana mengurangi emisi polusi dengan cara seperti ini, tentu ini bisa menjadi cara kita untuk menghindari diri dari resiko bencana yang lebih besar.

Selanjutnya, kita memitigasi resiko bencana, contoh nanti kalau di daerah lereng, kalau tidak ada vegetasinya tentu sedimennya gampang jatuh. Gampang longsor maka perlu diberi tanaman apakah itu bambu, ataukah itu tanaman yang lainnya. Sama juga seperti di daerah pesisir yang rawan abrasi, di mana bibir pantainya semakin lama semakin menjorok-menjorok ke sisi darat.

"Tentu nanti bisa mengganggu aktivitas masyarakat setempat atau budidaya masyarakat di sekitar sana maka perlu diberi Green Belt," lanjutnya.

Jadi satu dimitigasi bencana, selain perubahan iklim ada peristiwa-peristiwa lain yang akan terjadi. Sebagai sarana pengungkit ekonomi juga, kalau wilayahnya asri, bersih tentu bisa kita angkat untuk wisata.

"Kemudian hasil pokoknya, hasil buahnya, bisa digunakan untuk kerajinan dan sebagainya. Seperti bambu, itu mungkin contoh-contoh nanti yang bisa kita laverage," tandas Bupati.

 

(Pewarta : Hardi Rangga)

Berita Terkait