Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti
Klikwarta.com, Semarang - Tawa anak-anak terdengar memenuhi ruang orientasi di TK 'Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain, Kudus. Alih-alih mengikuti tes membaca atau berhitung, mereka diajak bermain, berinteraksi, dan mengenal lingkungan sekolah. Bagi para guru, itulah cara terbaik mengenali karakter setiap anak. Bagi orang tua, pengalaman tersebut menjadi awal yang menenangkan dalam mengantarkan buah hati memasuki jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Eni Uswati merasakan pengalaman itu saat mendaftarkan putri bungsunya melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Menurutnya, proses berlangsung sederhana sekaligus memberi ruang bagi sekolah untuk mengenal anak sejak awal.
"Persyaratannya cukup membawa akta kelahiran, Kartu Keluarga, dan pas foto. Setelah diverifikasi, kami mengikuti orientasi bersama anak. Anak-anak diajak asesmen awal agar guru mengenal karakter mereka sejak awal," tutur Eni.
Kepercayaan Eni bukan tanpa alasan. Tiga anaknya sebelumnya juga bersekolah di tempat yang sama dan tumbuh dalam lingkungan belajar yang ramah.
"Guru-gurunya sangat peduli. Anak saya yang dulu sangat aktif sekarang menjadi lebih terarah, lebih fokus, dan mulai terbiasa menjalankan ibadah. Kami berharap anak yang sekarang juga mendapatkan fondasi agama, ilmu pengetahuan, dan kemandirian sebagai bekal untuk jenjang berikutnya," ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Fathur Rohman. Setelah putranya mengikuti Kelompok Bermain di sekolah tersebut, ia kembali memilih melanjutkan ke jenjang TK karena meyakini bahwa pendidikan usia dini bukan tentang mengejar kemampuan akademik.
"Kami merasa prosesnya sangat baik. Orang tua diberikan penjelasan, sementara anak-anak dikenalkan dengan lingkungan sekolah melalui kegiatan yang menyenangkan. Harapan kami, anak menjadi lebih mandiri, lebih bertanggung jawab, dan semakin berkarakter," katanya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa masa usia dini merupakan fondasi bagi perkembangan anak pada jenjang pendidikan berikutnya.
"Hampir semua teori pendidikan menyebutkan bahwa tujuh tahun pertama kehidupan merupakan masa yang paling menentukan. Pendidikan anak usia dini adalah fondasi bagi seluruh proses pendidikan selanjutnya," ujarnya.
Oleh karena itu, pemerintah memasukkan PAUD ke dalam program Wajib Belajar 13 Tahun, sekaligus memperluas dukungan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) bagi peserta didik TK dari keluarga sasaran serta peningkatan kompetensi guru PAUD.
Abdul Mu'ti juga mengingatkan agar satuan pendidikan tidak membebani anak dengan tuntutan akademik yang belum sesuai tahap perkembangannya.
“Jangan membebani anak-anak TK dengan tuntutan akademik yang berlebihan. Pendidikan di usia dini adalah ruang bagi anak untuk bermain, bersosialisasi, membangun rasa percaya diri, melatih motorik, menanamkan kebiasaan baik, dan membangun karakter," pesannya.
Semangat tersebut diterapkan dalam pelaksanaan SPMB di TK 'Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain. Kepala sekolah, Ami, mengatakan seluruh informasi pendaftaran disampaikan secara terbuka, sekaligus menjadi ruang membangun kemitraan dengan orang tua.
"Kami ingin memastikan setiap orang tua memahami sejak awal visi sekolah, kurikulum, hingga pola kolaborasi yang akan dibangun. TK bukan tempat berlomba agar anak cepat bisa membaca, tetapi tempat membangun fondasi akhlak, karakter, dan kesiapan belajar," jelas Ami.
Ketua Panitia SPMB, Lelly, menambahkan layanan pendaftaran dibuat fleksibel melalui layanan langsung, daring, dan WhatsApp agar orang tua merasa nyaman sejak awal.
"Target kami sederhana, orang tua merasa tenang saat mendaftarkan anaknya. Karena itu kami menyediakan berbagai jalur komunikasi, mendampingi selama proses pendaftaran, dan memastikan setiap berkas diverifikasi secara teliti," ujarnya.
Pelaksanaan SPMB PAUD yang ramah menunjukkan bahwa proses penerimaan murid baru bukan hanya proses administrasi. Lebih dari itu, SPMB menjadi langkah awal membangun kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah untuk menumbuhkan karakter, kemandirian, serta kecintaan anak terhadap belajar. Bagi anak usia dini, pengalaman belajar menjadi lebih bermakna dan menyenangkan jika dikenalkan lewat permainan. (**)








