Kasun Ganten Sebut Watu Gilang, Drone Peradaban Masa Lalu

Minggu, 23/02/2020 - 20:15
Kasun Ganten Sebut Watu Gilang

Kasun Ganten Sebut Watu Gilang

Klikwarta.com, Malang - Kepala Dusun Ganten, Ikhsan menyebut (minggu, 23/2/2020), adanya susunan batu bata kuno di kawasan Watu Gilang, dan tempat ini dikepung gunung-gunung dari berbagai arah. Ada 3 gunung legendaris yang mengepungnya, Gunung Arjuno, Kawi dan Kelud.

Susunan batu bata kuno terbuat dari andesit, terlihat jelas ditengah hutan yang cukup lebat. Kondisi sebagian besar batu bata kuno ini nyaris sempurna atau sedikit sekali kerusakannya.

Secara administratif, lokasi keberadaan batu bata kuno tersebut berada di Dusun Ganten, Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.

Tidak diketahui secara pasti, mengapa kawasan tersebut dinamakan Watu Gilang. Demikian juga literasi sebagai bukti otentik pendukung keberadaan batu bata kuno yang diyakini berstatus purbakala.

Berdasarkan pengukuran pada batu bata kuno, tercatat tinggi 21 hingga 22 centimeter, panjang 73 hingga 74 centimeter, dan lebar 30 hingga 31 centimeter.

Tinggi tumpukan batu bata kuno itu tercatat 3,6 meter dan panjang mencapai 42 meter. Dari pengamatan, batu bata kuno ini tersusun dalam 3 trap, dan tiap trap berjarak 30 hingga 31 centimeter.

Susunan batu bata kuno tersebut tertata dengan rapi, dan bila dilihat sepintas, berwujud mirip benteng era kolonial Hindia Belanda.

Namun, bila didekati dan diamati, ternyata batu bata tersebut terbuat dari andesit, bertolak belakang batu bata yang biasa digunakan pada masa kolonial Hindia Belanda.

Sebut Ikhsan, menurut cerita para sesepuh desa terdahulu, Watu Gilang dulunya digunakan sebagai tempat pengintaian oleh Kerajaan Tumapel maupun Singosari, dan pengintaian itu sendiri tidak lepas dari ancaman kerajaan-kerajaan lain disekitarnya.

Bisa dikatakan, bila menyandingkan teknologi pengintaian dimasa sekarang, Watu Gilang sama seperti fungsi drone, untuk memata-matai negara lain.

Lanjut Ikhsan, di Watu Gilang, kita bisa melihat pemandangan segitiga legendaris (Gunung Arjuno, Kawi dan Kelud), dan dari pemandangan itulah pergerakan prajurit dari kerajaan lain bisa terlihat di masa Kerajaan Tumapel maupun Singosari.

Benar tidaknya, lokasi Watu Gilang berfungsi sebagai drone di masa lalu, masih tanda tanya besar. Hal ini disebabkan tidak adanya bukti otentik berbentuk manuskrip yang menjelaskannya, entah berupa lontar atau prasasti.

Sementara itu, susunan batu bata kuno tersebut diyakini sebagian warga setempat tidak setinggi sebagaimana terlihat saat ini, tetapi lebih tinggi lagi perwujudannya.

Keyakinan sebagian warga setempat tersebut didasari masih adanya susunan batu bata kuno didalam permukaan tanah, namun tak ada yang berani menggalinya.

Demikian juga lebar susunan batu bata kuno itu, ada kemungkinan lebih lebar dari yang terlihat saat ini. Kemungkinan tersebut didasari masih adanya susunan batu kuno yang tertimbun tanah.

Diduga, susunan batu bata kuno tersebut merupakan bagian dari struktur bangunan candi. Benar tidaknya Watu Gilang sebenarnya berwujud candi, masih tidak diketahui secara pasti.

Hal tersebut disebabkan belum adanya pernyataan resmi dari pihak otoritas yang berwenang menangani benda-benda purbakala, terkait keberadaan Watu Gilang yang terletak di lereng Gunung Arjuno ini.

Selain itu, tidak diketahui kapan dan dimasa kerajaan apa, Watu Gilang dibangun. Semua itu masih menjadi misteri, terkait belum adanya keterangan maupun bukti pendukung yang bisa menjelaskannya. (dodik)

H

Berita Terkait