Pendiri Nahdlatul Ulama, Cicit pendiri NU, KH Syaikhona Kholil, Mohammad Nasih Aschal
Klikwarta.com - Rencana pencalonan cicit pendiri Nahdlatul Ulama (Alm) KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Halim Mahfudz atau akrab disapa Gus Kikin dalam Muktamar NU di Jombang pada 27-31 Agustus 2026 mendapat apresiasi dari kalangan trah pendiri Nahdlatul Ulama, Cicit pendiri NU, KH Syaikhona Kholil, Mohammad Nasih Aschal.
Pria yang akrab dipanggil Lora Nasih itu menilai kehadiran calon dari trah pendiri adalah hal positif untuk dinamika organisasi. Lora Nasih menekankan bukan hanya sekedar mewarnai dengan dinamika muktamar, tetapi secara esensi pesan moralnya adalah bahwa NU tidak akan pernah keluar dari Pondok Pesantren Tebuireng dan beberapa pesantren-pesantren besar yang telah ikut serta dalam pendirian jam'iyah tersebut.
"Ketika ada dari trah pendiri, kemudian mencalonkan diri, kita apresiasi dan kita dorong supaya ini bisa meng-create," ujar Nasih Aschal.
Menurut pria yang duduk sebagai Anggota DPRD Jatim itu, substansi penting dalam Muktamar kali ini adalah bagaimana mengembalikan NU kepada khitohnya dan memberdayakan jam'iyah.
"Selain itu kemanfaatan dari jam'iyah ini tentu menjadi ukuran kemana kira-kira NU setelah muktamar ini," jelasnya.
Nasih Aschal juga menekankan pentingnya orientasi NU pasca-muktamar agar tidak hanya berkutat pada urusan sistemik, tetapi benar-benar menyentuh kemaslahatan umat.
"Jadi kemaslahatan NU itu akan seperti apa? Apakah masih hanya berkutat di dalam hal-hal yang bersifat sistemik atau memang sudah bergerak ke ranah manfaat, maslahah kepada masyarakat, manfaat maslahah kepada seluruh warga Nahdliyyin," ujarnya.
Terkait banyaknya figur yang mencalonkan diri, Lora Nasih melihat hal itu justru menjadi kekuatan. Perbedaan adalah fitrah dan tradisi NU. Perbedaan itu justru menjadi sebuah keindahan, dan memperkuat keberadaan jam'iyah. Mengingat fitrah dari kehidupan manusia ini memang tidak pernah lepas dari perbedaan.
"Justru di sini dengan banyaknya figur yang mencalonkan diri, maka NU akan kembali menjadi organisasi yang bisa mengaplikasikan prinsip. Perbedaan-perbedaan di NU sesuai dengan tradisinya harus menjadi rahmad, solusi bagi semua persoalan-persoalan yang ada di NU itu sendiri," tegasnya.
Menyinggung isu pejabat negara yang akan maju dalam kontestasi muktamar, Nasih Aschal menyerahkan sepenuhnya pada mekanisme yang akan dirumuskan dalam komisi muktamar nanti.
"Kalau bicara tentang siapa kemudian yang bisa, kemudian apakah penjabat boleh mencalonkan diri nanti akan dirumuskan dalam muktamar nanti jadi ada komisi yang akan mengatur tentang bagaimana pencalonan itu," katanya.
Ia menilai tingginya animo dari berbagai kalangan menjadi pertanda baik bagi NU memasuki abad kedua.Lora Nasih berharap untuk menjadikan NU sebagai organisasi yang memasuki abad kedua harus mau bergerak, dan melakukan transformasi demi kebermanfaatan yang lebih luas lagi.
"Tapi prinsipnya adalah bahwa hari ini kita melihat respon dari berbagai pihak, dan kalangan menjadi sesuatu yang mahal," ucapnya.
Lora Nasih menegaskan acuan utama NU adalah arahan para Masyayikh. Dalam mekanisme NU, ada istilah ahwa atau orang-orang yang disepuhkan. Maka, NU harus kembali kepada figur para Masyayikh yang memang memiliki kapasitas, kredibilitas untuk berbicara tentang nilai-nilai ke-NU-an yang lebih dalam. (**)








