Pelaksanaan _The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience_ (GFSR) ke-3 resmi ditutup oleh Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Dr. Raditya Jati pada Kamis (10/9)
Klikwarta.com, Jakarta - Pelaksanaan The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) resmi ditutup dengan menghasilkan rumusan penting untuk mengubah komitmen global menjadi aksi nyata di tingkat lokal. Resiliensi kini tidak lagi dipandang sebagai agenda kebijakan yang terpisah, melainkan hasil dari integrasi antara aksi iklim, pengurangan risiko bencana, dan pembangunan berkelanjutan.
Menutup GFSR ke-3, Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Dr. Raditya Jati memulai dengan pembelajaran 20 tahun gempa Yogyakarta, yang terjadi pada 2006 silam. Forum ini menekankan bahwa pemulihan tidak hanya sebatas membangun kembali infrastruktur fisik. Konsep kearifan lokal seperti _Hamemayu Hayuning Bawana_ terbukti menjadi nilai fundamental yang memperkuat hubungan, kepercayaan, dan tanggung jawab bersama di tengah masyarakat melalui gotong royong.
Dalam salah satu sesi diskusi utama, para pembicara menyoroti perubahan paradigma secara mendasar. Komunitas tidak boleh lagi dianggap sebagai objek dari program kebencanaan.
“Komunitas harus diakui sebagai subjek pemulihan, bukan sekadar penerima bantuan
yang pasif” ujar Deputi Raditya Jati, Kamis (10/9).
Keberhasilan pemulihan pascabencana juga ditekankan untuk diukur dari berbagai aspek kehidupan masyarakat yang lebih komprehensif, melampaui statistik pembangunan fisik.
“Pemulihan juga harus diukur dari, bukan hanya membangun kembali rumah, sekolah,
atau jalan, tetapi juga memulihkan mata pencaharian, fungsi layanan, keamanan
komunitas, pengurangan kerentanan, dan penguatan institusi,” ujar Deputi.
Di samping itu, forum ini juga menyoroti pentingnya inklusi sosial sebagai sumber kapasitas resiliensi. Penyandang disabilitas, seperti yang ditunjukkan oleh komunitas Difagana, bukanlah sekadar kelompok rentan yang butuh perlindungan, melainkan aktor dan pemimpin ketangguhan di wilayah mereka sendiri.
Terkait pemanfaatan teknologi dan sistem informasi risiko, para ahli sepakat bahwa secanggih apapun perangkat yang digunakan, pusatnya harus tetap pada manusia penggunanya.
“Teknologi berhasil ketika orang memahaminya, memercayainya, memeliharanya, dan
menggunakannya untuk bertindak,” imbuh Raditya Jati.
Selain itu, aspek pendanaan turut dibahas secara mendalam. Diperlukan perubahan sistem pembiayaan untuk mendukung kesiapsiagaan investasi pada pengurangan risiko.
“Pembiayaan kreatif bukan sekadar instrumen keuangan baru. Ini adalah mobilisasi
strategis sumber daya, aset lokal, pengetahuan, institusi, dan mekanisme pembiayaan
seputar tujuan ketangguhan bersama,” kata Deputi BNPB.
*Refleksi Akhir: Menyelaraskan Dampak*
Keberhasilan dampak resiliensi tercapai ketika komitmen global membentuk sistem nasional, lalu sistem tersebut memfasilitasi investasi lokal, dan masyarakat menggabungkan pengetahuan, kearifan lokal, teknologi, serta pembiayaan untuk bertindak sebelum ancaman berubah menjadi bencana.
“Dampak yang selaras tercapai ketika komitmen global membentuk sistem nasional,
sistem nasional memungkinkan investasi dan pembiayaan lokal, dan komunitas
menggabungkan pengetahuan, kepercayaan, kearifan lokal, kemitraan, teknologi, dan
keuangan untuk bertindak sebelum ancaman menjadi bencana,” tutup Deputi Raditya.
Dengan berakhirnya GFSR ke-3 ini, langkah selanjutnya yang ditekankan adalah memastikan implementasi dan institusionalisasi dari sistem-sistem tersebut, mengubah pendekatan percontohan lokal menjadi sistem berskala besar yang diadopsi dalam anggaran dan kebijakan nasional. (**)








