Tak Cukup Menjadi Rekomendasi, Kebijakan Pendidikan Harus Berdampak bagi Murid

Sabtu, 13/06/2026 - 11:54
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen), Atip Latipulhayat

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen), Atip Latipulhayat

Klikwarta.com, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan komitmennya untuk mendorong transformasi pendidikan yang inklusif dan berbasis bukti di kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen), Atip Latipulhayat, saat memberikan sambutan penutup (closing remarks) dalam acara Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) Centre Policy Research Network (CPRN) Summit 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (11/6).

Wamen Atip Latipulhayat menekankan bahwa tolok ukur kesuksesan dari pertemuan internasional ini tidak boleh berhenti di atas kertas atau sekadar dokumen rekomendasi. Keberhasilan sejati harus diukur dari seberapa besar dampak positif yang dirasakan langsung oleh ekosistem pendidikan di lapangan.

"Tolok ukur keberhasilan SEAMEO CPRN Summit 2026 tidak akan ditemukan hanya pada presentasi yang disampaikan atau rekomendasi yang dihasilkan. Keberhasilan ini akan tercermin dalam kebijakan yang lebih responsif, program yang lebih efektif, kemitraan yang lebih kuat, dan pada akhirnya, dampak positif yang dialami oleh para murid, guru, dan masyarakat di seluruh wilayah kita," ucap Atip.

Dalam forum yang mengusung tema "Research and Practice: Ways Toward an Inclusive, Equitable, and Sustainable Future" ini, Atip menjabarkan pentingnya menyatukan tiga pilar utama, yaitu riset (bukti ilmiah), kebijakan (policy), dan praktik di lapangan.

Menurutnya, kebijakan yang kuat tidak boleh dilahirkan dari asumsi semata, melainkan wajib didasarkan pada data dan bukti yang sahih (evidence-based policy) agar implementasinya tepat sasaran.

Menggunakan analogi dari ilmuwan Albert Einstein mengenai kegilaan, di mana seseorang melakukan hal yang sama berulang kali tetapi mengharapkan hasil yang berbeda, Wamen Atip mengajak seluruh delegasi untuk berani melakukan adaptasi dan perubahan yang esensial.

"Perubahan adalah sebuah keniscayaan, tidak bisa dihindari, dan sangat penting untuk masa depan yang lebih baik. Dalam konteks ini, kita menyadari bahwa bukti itu sangat penting. Kebijakan yang lebih baik membutuhkan bukti yang kuat, implementasi yang lebih baik membutuhkan kolaborasi yang bermakna, dan kemajuan yang berkelanjutan membutuhkan pembelajaran serta adaptasi yang tiada henti," jelas Atip.

Kemendikdasmen menyoroti berbagai tantangan yang sedang dihadapi dunia pendidikan Asia Tenggara, mulai dari perubahan teknologi yang masif, pergeseran pasar kerja, tantangan lingkungan, hingga kesenjangan akses pendidikan yang masih dialami oleh sebagian anak.

Atip menegaskan bahwa pendidikan adalah urusan bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Oleh karena itu, Indonesia menawarkan nilai luhur bangsa, yaitu semangat gotong royong (common participation), sebagai fondasi ruang kolaborasi multipihak yang melibatkan pendidik, keluarga, masyarakat, universitas, mitra pembangunan, hingga sektor swasta.

Kolaborasi ini menjadi krusial demi memastikan bahwa tidak ada satu pun anak, terutama kelompok yang rentan (vulnerable learners), yang tertinggal dalam mendapatkan hak pendidikan berkualitas. "Kita harus bekerja bersama untuk memastikan setiap anak, tanpa memandang latar belakang atau kondisinya, memiliki akses ke pendidikan berkualitas dan kesempatan untuk memenuhi potensi mereka," tambahnya.

Wamen Atip Latipulhayat secara resmi menutup rangkaian SEAMEO CPRN Summit 2026 yang berlangsung dari tanggal 9 hingga 11 Juni 2026. Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada SEAMEO Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (CECCEP) selaku tuan rumah, SEAMEO Secretariat, serta seluruh pusat SEAMEO dan peneliti yang telah memperkaya ruang dialog selama tiga hari pelaksanaan.

Pertemuan ini dipandang bukan sebagai akhir dari sebuah diskusi, melainkan awal dari kelanjutan perjalanan bersama dalam memperkuat kerja sama regional demi masa depan pendidikan Asia Tenggara yang inklusif, adil, dan berkelanjutan. (**) 

Berita Terkait