Ketua DPRD Jateng Jadi Host Wayang Kulit, Kupas Sejarah dan Lakon Babad Wanamarta bersama Adik Raja Keraton Solo

Sabtu, 21/06/2025 - 17:57
Ketua DPRD Jateng Sumanto saat mewawancarai KGPHA Benowo, dalam acara pergelaran wayang kulit dengan lakon Babad Wanamarta, di Desa Suruh, Tasikmadu, Karanganyar, Jumat (20/6/2025)

Ketua DPRD Jateng Sumanto saat mewawancarai KGPHA Benowo, dalam acara pergelaran wayang kulit dengan lakon Babad Wanamarta, di Desa Suruh, Tasikmadu, Karanganyar, Jumat (20/6/2025)

Klikwarta.com, Karanganyar - Sebuah pemandangan tak biasa tersaji dalam pergelaran wayang kulit yang digelar di kediaman Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, di Desa Suruh, Tasikmadu, Karanganyar, pada Jumat (20/6/2025) malam.

Sumanto, sang empunya hajat, kali ini tidak hanya bertindak sebagai tuan rumah, melainkan juga mengambil peran sebagai host dalam sesi gelar wicara (talk show) yang mengupas tuntas seluk-beluk wayang kulit.

Dalam obrolan santai tersebut, Sumanto menggandeng narasumber istimewa, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPHA) Benowo, adik dari Raja Keraton Kasunanan Surakarta PB XIII. KGPHA Benowo sendiri merupakan koordinator dalang se-eks Karesidenan Surakarta (Solo Raya) sekaligus pembina pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jawa Tengah.

Gelar wicara ini sengaja disajikan dengan tujuan agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat lebih memahami alur cerita atau sinopsis dari setiap lakon wayang yang dipentaskan.

Mengawali perbincangan, Sumanto meminta KGPHA Benowo untuk menjelaskan sejarah singkat wayang kulit di Pulau Jawa dan perkembangannya di Jawa Tengah.

KGPHA Benowo memaparkan bahwa wayang kulit telah ada sejak lama, bahkan disebut-sebut sudah tercipta sejak abad ke-1, pada masa kerajaan Jenggala di Jawa Timur. Jejak perkembangannya juga ditemukan pada zaman Kerajaan Kediri sekitar 1023 Masehi.

"Referensi itu saya dapatkan dalam buku catatan sejarah yang ada di Museum Radya Pustaka, juga museum Keraton Kasunanan Surakarta. Wayang berkembang ke zaman kerajaan Majapahit, dan terus berkembang hingga Demak, kerajaan bercorak Islam pertama di Pulau Jawa, yang didirikan oleh Raden Patah menjelang akhir abad ke-15," terang KGPHA Benowo.

Pada masa itu, kesenian wayang yang luwes dan menarik sangat digemari masyarakat. Wayang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung petuah luhur tentang ajaran budi pekerti. Bahkan, pementasan wayang telah menjadi media efektif untuk mensosialisasikan kebijakan penting dari pemerintah kepada masyarakat sejak zaman dahulu.

"Jadi, sudah tepat jika Bapak Sumanto sebagai Ketua DPRD Jawa Tengah menggelar pementasan wayang kulit untuk mensosialisasikan program maupun kebijakan dari pemerintah kepada masyarakat. Dan saya selaku koordinator dalang se-eks Karesidenan Surakarta atau Solo Raya, tentunya mendukung hal ini," ujar KGPHA Benowo, mengapresiasi langkah Sumanto.

Ia menambahkan, karakter dalam wayang merupakan penggambaran dari sifat baik dan buruk manusia. Karakter baik digambarkan di barisan kanan layar, sedangkan karakter buruk di barisan kiri.

"Pergelaran wayang ini adalah pertemuan dua karakter, antara baik dan buruk. Dan dalam setiap pementasannya, karakter baik selalu menang melawan karakter yang buruk. Pesan moralnya, bahwa kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan. Inilah kemampuan luar biasa nenek moyang atau leluhur kita dahulu," jelasnya.

Setelah mengulas sejarah wayang secara umum, Sumanto sebagai host kemudian meminta KGPHA Benowo untuk menjelaskan lebih lanjut tentang Babad Wanamarta, lakon yang malam itu dibawakan oleh dalang remaja Raras Purwoko Jenar asal Jumantono, Karanganyar, serta dua dalang lainnya, Ki Ari Murtopo dan Ki Isna Indra Saputra.

KGPHA Benowo memaparkan secara ringkas bahwa Babad Wanamarta mengisahkan perjuangan Pandawa dalam mendirikan negara Amarta. Kisah ini bermula ketika Pandawa menerima hutan Wanamarta dari Prabu Destarata, sebagai pengganti hak mereka atas kerajaan Astina sepeninggalan Prabu Pandu Dewanata, ayah para Pandawa.

Konflik muncul karena Pandawa, yang seharusnya menjadi pewaris Astina, justru diberikan hutan Wanamarta akibat intrik licik Duryudana dan Patih Sengkuni.

"Pandawa, terutama Bima, dengan semangat dan tekad yang kuat membuka hutan Wanamarta. Bukan tanpa halangan, mereka harus menghadapi berbagai rintangan, termasuk gangguan dari jin dan setan yang mendiami hutan tersebut," jelas KGPHA Benowo.

Berkat pusaka berupa batu sakti bernama Kyai Sela Tempuru pemberian Resi Manumanasa, Bima beserta Pandawa akhirnya berhasil mengalahkan jin yang mengganggu. Bahkan, beberapa jin menyerahkan diri dan bergabung dengan Pandawa, sementara ada pula yang merasuk ke dalam diri kelima Pandawa dan menjadi kekuatan. Hutan Wanamarta pun kemudian diubah menjadi kerajaan Amarta yang indah dan makmur.

"Secara keseluruhan, Babad Wanamarta adalah kisah tentang perjuangan dan pengorbanan Pandawa, terutama Bima atau Werkudara, dalam mendirikan kerajaan Amarta, dari yang semula Wanamarta masih berupa hutan belantara yang angker dan wingit menjadi sebuah kerajaan Amarta yang makmur," pungkas KGPHA Benowo, menutup sesi gelar wicara.

Pewarta : Kacuk Legowo

Berita Terkait