Penulis buku "Tarikh Padangan" Ahmad Wahyu Rizkiawan (tiga dari kiri) saat melaunching buku di aula balaidesa Kuncen kecamatan Padangan
Klikwarta.com, Blora - Launching buku berjudul "Tarikh Padangan" karya Ahmad Wahyu Rizkiawan dihelat di aula balaidesa Kuncen Padangan kabupaten Bojonegoro, pada Kamis (4/4/2024) malam. Sebelum launching peserta terlebih dahulu ziarah ke makam Menak Anggrung Mbah Sabil dan Mbah Hasyim di Desa Kuncen kecamatan Padangan. Acara yang dikemas dalam "Ngopi Sareng" Napak Tilas Peradaban Islam Bojonegoro-Blora; Menyibak Jaringan Syiar Islam di Bengawan (Jipang Padangan) tersebut, juga melahirkan agenda lain dan visi masa depan.
Penulis buku "Tarikh Padangan" Ahmad Wahyu Rizkiawan yang akrab dipanggil Rizki menjelaskan, penulisan buku ini menjadi simbol bahwa peradaban bengawan sangat diperhatikan para ulama dalam rangka menyebarkan Islam.
"Tarikh Padangan tak hanya membahas Padangan, tapi lebih luas Jipang (Blora dan Bojonegoro), dua rumpun masyarakat yang hidup berdampingan dengan aliran air sungai dan hutan jati," ujar Riski.
Ngopi Sareng merupakan agenda tahunan mempertemukan para pegiat dari Blora dan Bojonegoro. Jika tahun ini diadakan di Kuncen Padangan, tahun depan, semoga bisa dilaksanakan di pusat sastra Jipang abad 19 M, yaitu Pesantren Klotok.
Buku Tarikh Padangan sebanyak 288 halaman tersebut, menyigi kejayaan masa lampau Nagari Jipang (cikal bakal Kabupaten Blora, Bojonegoro, dan Tuban Selatan). Pembahasannya fokus pada para penyebar Islam di wilayah Jipang Padangan.
Dimulai sejak abad 14 M (periode 1300 M), hingga perkembangannya pada abad 20 M (periode 1900 M). Konteks periodesasi, kitab Tarikh Padangan menegaskan peradaban Islam Blora dan Bojonegoro terpaut erat yang tidak bisa dipisahkan.
Menurut Ahmad Rouf dari Hayati Institute mengungkapkan, buku Tarikh Padangan dapat menjadi pintu masuk perkembangan pengetahuan sosial-budaya di Blora dan Bojonegoro yang dapat memberikan dampak ekonomi dan lingkungan. Lebih jauh dari itu, dapat menghasilkan transformasi sosial yang akan menghadirkan kehidupan di Blora-Bojonegoro dengan lebih baik.
"Perjalanan dari masa ke masa para tokoh syiar Islam yang dengan epik dijelaskan pada buku Tarikh Padangan dapat dikembangkan menjadi ikon wisata berbasis sejarah-religius (produk wisata inti). Dari sini, pengembangan produk dapat dilakukan. Oleh karena itu, sektor industri pariwisata berbasis sejarah-religius perlu digalakkan," ujar Ahmad Rouf.
Aktivasi Potensi Peradaban Jipang Padangan
Ragam potensi sejarah-religius yang dapat menjadi ikon di masing-masing desa (sekarang) tidak bisa berdiri sendiri. Kendati spesifikasi memang penting dan harus dilakukan. Namun untuk mencapai pendekatan kawasan adalah kuncinya.
Kekinian, pemerintah Indonesia sedang menggalakkan ekonomi berbasis kreativitas. Melalui Kemenparekraf, gagasan-gagasan termanifestasi pada gerakan ekonomi kreatif (ekraf).
Prinsip pengembangan ekonomi kreatif yang termuat dalam rencana induk pengembangan ekonomi kreatif, meliputi, pemberdayaan sumber daya manusia kreatif untuk mewujudkan kreativitasnya menjadi produk dan/atau jasa yang dilindungi oleh hak kekayaan intelektual. Peningkatan literasi mengenai pola pikir desain bertujuan untuk mentransformasikan kreativitas menjadi inovasi. Penciptaan karya kreatif menggunakan warisan budaya sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan keunikan dan memperkuat jati diri, persatuan dan kesatuan, serta eksistensi bangsa Indonesia di forum internasional;
Pengembangan dan pemanfaatan media sebagai saluran distribusi dan presentasi karya dan konten kreatif lokal yang berkualitas untuk meningkatkan apresiasi dan pengakuan masyarakat Indonesia dan dunia;
Khazanah pengetahuan yang termaktub pada buku Tarikh Padangan dalam hal ini dapat menjadi inspirasi kreativitas pengembangan kawasan ekonomi kreatif di Blora dan Bojonegoro.
Pewarta : Fajar








