Mendikdasmen Abdul Mu'ti
Klikwarta.com, Manado, 22 April 2026 – Bertempat di TK Negeri 10 Manado, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melakukan peresmian Revitalisasi Satuan Pendidikan di Provinsi Sulawesi Utara. Lokasi peresmian tersebut dipilih menandai komitmen Kemendikdasmen terhadap fondasi paling dasar dalam pembangunan sumber daya manusia yang menempatkan pendidikan anak usia dini sebagai titik awal penguatan sistem pendidikan nasional.
Mengacu arahan Presiden agar di Indonesia tidak ada lagi sekolah dengan kondisi yang tidak layak, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa Revitalisasi Satuan Pendidikan merupakan wujud kehadiran negara dalam menjamin layanan pendidikan yang bermutu dan merata. “Arahan Bapak Presiden sangat jelas, tidak boleh ada sekolah yang atapnya runtuh dan tidak memiliki fasilitas dasar yang layak. Karena itu, kita mulai dari pendidikan anak usia dini. Dari sinilah masa depan bangsa dibentuk,” ujar Mendikdasmen di Kota Manado, Sulawesi Utara, Selasa (21/4).
Secara nasional, program revitalisasi menunjukkan percepatan signifikan. Pada tahun 2025, realisasi mencapai 16.167 satuan pendidikan atau 154,9 persen dari target awal 10.440 sekolah. Pada tahun 2026, program ini berlanjut dengan target awal 11.744 satuan pendidikan dan berpotensi meningkat hingga total 71.744 sekolah seiring arahan Presiden terkait penambahan target sasara yang berkisar 60 ribu satuan pendidikan.

Khusus di Sulawesi Utara, program revitalisasi menjangkau 248 satuan Pendidikan terdiri atas 247 sekolah dan 1 Unit Sekolah Baru dengan total anggaran mencapai Rp231 miliar. Dari jumlah tersebut, 151 sekolah diresmikan dalam rangkaian kegiatan yang dimulai di Manado. Penyebarannya mencerminkan upaya pemerataan, dengan Kota Manado mencakup 18 sekolah atau 7,3 persen dan Kabupaten Minahasa sebanyak 19 sekolah atau 7,7 persen dari total revitalisasi di provinsi.
Pada kesempatan itu, Menteri Mu`ti secara simbolis menandatangani empat prasasti revitalisasi yang mewakili setiap jenjang pendidikan, yakni TK Negeri 10 Manado, SD Inpres Kalagheng, SMP Negeri 5 Tomohon, dan SMK Muhammadiyah Manado. Sementara itu, 147 prasasti lainnya juga ditandatangani yang disaksikan oleh para jajaran pimpinan daerah.
Acara peresmian program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang bertempat di TK Negeri 10 Manado disambut baik oleh masyarakat Manado. Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa program ini menjawab kondisi riil pendidikan di daerah. Sekitar 58 persen bangunan TK dan SD, 56 persen SMP, serta 46 persen SMA di Sulawesi Utara masih berada dalam kondisi rusak. Ia menilai revitalisasi ini menjadi langkah percepatan yang sangat dibutuhkan agar dalam beberapa tahun ke depan kondisi sarana pendidikan di daerahnya dapat jauh lebih baik.
Senada dengan itu, Kepala TK Negeri 10 Manado, Meity Linda Paat yang menceritakan perubahan signifikan dari sekolahnya usai direhabilitasi. Ia mengakui, kondisi sekolahnya sebelum direvitalisasi mencerminkan tantangan yang kerap dihadapi oleh banyak satuan pendidikan. Kini, ia pun senang karena pemerintah menaruh banyak perhatian terhadap peningkatan mutu sarpras dan pembelajaran khususnya untuk jenjang pendidikan anak usia dini.

Meity mengungkapkan bahwa sebelum revitalisasi, proses belajar mengajar kerap terganggu oleh kondisi bangunan yang tidak layak. “Kalau hujan, air masuk sampai ke dalam kelas dan menggenang seperti kolam. Anak-anak jadi takut datang ke sekolah karena khawatir terpeleset. Atap, plafon, sampai dinding banyak yang sudah rusak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keterbatasan ruang juga menjadi kendala serius, terutama dengan jumlah murid yang mencapai 111 anak. “Kami kekurangan ruang kelas, sementara jumlah murid terus bertambah. Bahkan sekarang setelah direvitalisasi, daftar tunggu sudah mencapai 30 anak,” lanjutnya.
Setelah mendapatkan program revitalisasi pada tahun 2025 dengan anggaran lebih dari Rp1 miliar, TK Negeri 10 Manado mengalami perubahan signifikan. Pembangunan ruang kelas baru, ruang administrasi, serta perbaikan fasilitas sanitasi dan pembangunan toilet khusus difabel menghadirkan lingkungan belajar yang jauh lebih layak. “Sekarang anak-anak datang dengan semangat, guru juga lebih nyaman mengajar. Orang tua pun merasa lebih percaya dan senang menyekolahkan anaknya di sini,” ungkapnya.
Revitalisasi bukan sekadar memperbaiki bangunan, tetapi memastikan setiap anak Indonesia memulai perjalanan belajarnya dari lingkungan yang layak, aman, dan menyenangkan. Oleh karena itu, selain rehabilitasi fisik, pemerintah juga memperkuat transformasi pembelajaran berbasis teknologi sebagai penegasan komitmen pemerintah bahwa penguatan pendidikan dilakukan secara menyeluruh. Pada tahun 2025, distribusi Interactive Flat Panel (IFP) secara nasional telah mencapai 288.865 unit dan diproyeksikan meningkat hingga sekitar 886.595 unit pada tahun 2026. Di Sulawesi Utara sendiri, distribusi IFP mencapai 3.760 unit di mana Kota Manado memperoleh 506 unit dan Kabupaten mendapat 512 unit IFP.
(Kontributor : Arif)








