Etika, Hal Biasa Yang Sering Kita Lupa

Selasa, 20/05/2025 - 16:12
Foto : Ilustrasi

Foto : Ilustrasi

Oleh : Zikrah Nur Amalah, mahasiswa aktif pada program studi Penerbitan (Jurnalistik) di Politeknik Negeri Jakarta.

Terkadang, hal-hal yang bikin kita mikir justru datang dari momen yang enggak kita sangka. Kayak pagi itu, pas lagi di kereta, semuanya biasa aja padat, penuh, orang sibuk sama dunianya masing-masing. Tapi entah kenapa, ada satu kejadian kecil yang bikin saya diam sebentar.

Nggak heboh, nggak buat viral, bahkan mungkin banyak orang nggak sadar itu terjadi. suasana di kereta saat ini, seketika membuat saya berpikir kembali. Tentang seberapa peka diri saya terhadap seluruh alur cerita masyarakat umum yang terjadi di sekitar saya.

Pagi itu, seperti biasa, Stasiun Pasar minggu penuh oleh orang-orang yang terburu-buru. Saya ikut mengantre, masuk ke gerbong kereta tujuan manggarai yang padat oleh pekerja dan pelajar. Di dalam, suasananya seperti biasa hening, sibuk, dan agak sempit. Tidak banyak obrolan, sebagian besar penumpang sibuk menatap layar ponsel, mendengarkan musik lewat earphone, atau hanya menatap kosong ke luar jendela.

Tiba-tiba, di tengah suasana yang cenderung acuh itu, saya menyaksikan pemandangan sederhana tapi berkesan. Seorang pria muda berdiri dari tempat duduk prioritasnya dan dengan sopan menawarkan kursinya kepada seorang Wanita lansia yang baru naik. Tak ada kata-kata panjang, hanya anggukan dan isyarat tangan.

Saya melihat Wanita lansia itu sempat tampak terkejut, lalu tersenyum kecil. Tatapan lelah di wajahnya sedikit mencair. Ia pun duduk pelan, sambil menyeka keringat. Di sekitarnya, ada beberapa penumpang yang sempat menoleh, lalu kembali fokus ke layar masing-masing. Tidak ada yang memuji atau bertepuk tangan. Tapi saya tahu, itu adalah bentuk etika paling jujur yaitu dilakukan tanpa mengharap imbalan.

Bukan Soal Duduk, Tapi Soal Rasa Peduli. Dari tempat saya berdiri, saya bisa melihat seorang pria muda itu tetap berdiri dekat pintu, menggenggam pegangan. Wajahnya biasa saja. Tidak terlihat bangga atau merasa berjasa. Justru ia tampak seperti seseorang yang menganggap tindakannya sebagai hal biasa. Dan memang seharusnya begitu, bukan?

Namun, di tengah kota seperti Jakarta, kebaikan kecil seperti itu kadang terasa istimewa. Karena jujur saja, banyak dari kita yang pernah memilih pura-pura tidur saat melihat orang tua berdiri. Pernah sengaja tidak menoleh agar tidak merasa “terpaksa” memberi.

Saya masih ingat, beberapa minggu sebelumnya, saya naik KRL dari Stasiun Pasar Minggu menuju Tanah Abang. Seorang ibu membawa 1 anak digendong dan 1 anak lagi digandeng olehnya sambil menggenggam pegangan yg ada di kereta, berdiri cukup lama di tengah gerbong. Di depannya, dua orang muda pria dan Wanita terlihat asyik mengscroll sosmed di ponsel dan yg satu nya seperti ingin tertidur. Tak satupun dari mereka berpindah tempat. Si ibu hanya diam, sesekali mengganti posisi berdiri agar anaknya tetap nyaman. Saya melihat itu sambil menghela napas.

Etika Itu Hidup di Hal Kecil

Etika bukan soal besar kecilnya tindakan, tapi soal kehadiran empati. Kita bisa bicara tentang moral, aturan, bahkan agama. Tapi kalau tidak dimulai dari tindakan sederhana seperti “memberi tempat duduk” atau “menawarkan bantuan”, semua itu tak lebih dari wacana kosong.

Etika tidak selalu diajarkan di ruang kelas. Tapi ia tumbuh dari rumah, dari pengalaman, dan dari kesadaran bahwa kita hidup berdampingan. Di ruang publik seperti Transjakarta atau KRL, etika diuji dalam bentuk paling nyata seperti apakah kita peka terhadap orang lain, atau hanya sibuk dengan urusan sendiri?.

Saya yakin, tindakan seorang pria muda pagi itu bukan hanya tentang sebuah kursi. Tapi tentang kesadaran sosial yang mulai langka bahwa kadang, cukup dengan berdiri, kita sudah bisa membuat hari orang lain lebih ringan.

Reflek di Tengah Keramaian

Setelah kejadian itu, saya tidak langsung turun. Saya terus memperhatikan sekitar. Ada seorang ibu yang tanpa diminta merapikan tasnya agar memberi ruang lebih di kursinya. Seorang anak SMA baru saja duduk lalu tidak lama dari itu dia terbangun dikursinya karena melihat lansia yang sedang mencari tempat duduk, akhirnya dia memberikan tempat duduknya kepada lansia tersebut.

Dan dari situlah saya belajar, bahwa etika memang tidak selalu dilihat. Tapi ia selalu terasa. Mungkin kita tidak bisa mengubah semua orang. Tapi kalau satu saja dari kita memilih untuk tidak cuek hari ini, maka satu perubahan kecil itu bisa jadi awal dari lingkungan yang lebih baik.

Karena jadi manusia bukan soal siapa yang paling cepat sampai, paling banyak uang, atau paling canggih ponselnya. Tapi siapa yang paling sadar bahwa ia tidak hidup sendirian.

Kadang kita terlalu sibuk dengan dunia sendiri sampai lupa liat yang di sekitar. Kayak saat pagi itu, aku sempat berhenti sejenak dan mikir, kenapa ya kita sering nggak peka? Padahal cuma hal kecil bisa bikin dampak yg besar.

Rasanya aneh juga, di kereta yang penuh dengan banyak orang itu, ada momen sederhana tapi hangat yang bikin hati meleleh. Aku sampai mikir, ini sih bukan soal duduk atau nggak duduk, tapi soal gimana kita peduli ke sesama.

Sering aku lihat orang-orang di kereta, muka capek, kepala tertunduk, kayaknya pengen ada yang ngasih perhatian. Tapi kenyataannya, kita sendiri kadang malah cuek dan asyik dengan dunia masing- masing.

Kalau dipikir-pikir, hal kayak gini yang kadang bikin kita jadi seperti manusia beneran. Bukan cuma manusia yang sibuk dan ngebut ngejar waktu saja.

Aku jadi percaya, satu kebaikan kecil itu bisa menular. Waktu aku lihat anak SMA itu bangun buat kasih tempat duduk ke orang tua, aku tahu masih ada harapan buat kita semua.

Jadi, dari pengalaman kecil itu aku belajar, ternyata etika itu bukan cuma aturan, tapi gimana kita mau jadi lebih baik buat orang lain tanpa disuruh.

Tags

Berita Terkait