400 Siswa Dilatih Hadapi Gempa, BPBD Jember Bentuk Sekolah Tangguh Bencana
Klikwarta.com, Jember - Kesiapsiagaan menghadapi bencana terus ditanamkan sejak dini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember menggelar Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMP Katolik Maria Fatima, Kaliwates, Kamis-Jumat (30–31/7).
Sebanyak 400 siswa bersama dewan guru mengikuti rangkaian edukasi hingga simulasi gempa bumi sebagai bagian dari upaya membangun budaya tanggap bencana di lingkungan sekolah.
Selama dua hari, peserta tidak hanya menerima materi mengenai potensi ancaman bencana dan langkah penyelamatan diri saat gempa, tetapi juga diajak mempraktikkan prosedur evakuasi secara langsung. Para siswa dibekali pengetahuan tentang pentingnya Tas Siaga Bencana sebagai perlengkapan darurat yang harus dipersiapkan sejak awal.
Di sisi lain, para guru memperoleh penguatan kapasitas mengenai implementasi Program SPAB, penerapan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), hingga pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) untuk menghadapi kondisi darurat di lingkungan sekolah.
Simulasi gempa menjadi puncak kegiatan pada Jumat (31/7). Seluruh warga sekolah dilibatkan bersama Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS), personel BPBD Kabupaten Jember, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Jember Kidul. Gladi tersebut menjadi sarana menguji kesiapan jalur evakuasi, pembagian peran, hingga koordinasi penanganan korban apabila bencana benar-benar terjadi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Jember Maryani mengatakan, sekolah menjadi salah satu lokasi yang harus memiliki kesiapsiagaan tinggi mengingat besarnya jumlah warga yang beraktivitas setiap hari.
Melalui Program SPAB, BPBD mendorong setiap satuan pendidikan memiliki kemampuan mengenali risiko, menyusun prosedur penanganan darurat, serta membangun budaya siaga bencana yang melibatkan seluruh unsur sekolah.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata, tetapi menjadi kebiasaan yang terus diterapkan sehingga warga sekolah mampu bertindak cepat, tepat, dan terkoordinasi ketika menghadapi situasi darurat. (**)








