Mendikdasmen Dorong Ruang Aktualisasi Sastra bagi Anak melalui Ekosistem Digital
Klikwarta.com, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengatakan bahwa sastra memiliki peran penting dalam membentuk karakter, mengembangkan olah rasa, dan memperkuat literasi peserta didik. Oleh karena itu, anak-anak perlu memiliki lebih banyak ruang untuk berekspresi dan mengembangkan imajinasi, termasuk melalui media digital.
Hal tersebut disampaikan Mendikdasmen saat menjadi narasumber dalam Talkshow Hari Puisi Nasional di Jakarta, Senin (27/7). Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir, tetapi juga perlu memberi perhatian pada olah rasa, olah hati, dan olah raga agar tumbuh secara seimbang dalam diri peserta didik.
"Pendidikan itu ada empat, yaitu olah raga, olah rasa, olah pikir, dan olah hati. Keempatnya harus tumbuh semuanya dan harus kita berikan ruang yang terintegrasi," ujar Menteri Mu'ti.
Ia menilai, ruang untuk mengembangkan olah rasa perlu terus diperluas, terutama di tengah perkembangan teknologi digital yang menghadirkan berbagai tantangan dalam kehidupan bermasyarakat. Sastra menjadi salah satu media yang dapat membantu peserta didik mengekspresikan gagasan, imajinasi, dan perasaannya melalui bahasa yang santun sekaligus membangun karakter.
Menurut Mendikdasmen, perkembangan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai hambatan bagi tumbuhnya minat terhadap sastra. Sebaliknya, ruang digital dapat dimanfaatkan sebagai media baru bagi generasi muda untuk berkarya dan memperluas ekosistem literasi.
"Kita ke depan perlu memikirkan _digital poetry_ atau puisi-puisi digital. Kita punya Rumah Pendidikan yang bisa diisi oleh anak-anak dan guru dengan berbagai karya, termasuk karya sastra puisi. Selain itu, kita juga memiliki Majalah Literasi yang diterbitkan secara rutin oleh kementerian," katanya.
Ia menjelaskan bahwa penguatan literasi melalui sastra juga menjadi bagian dari implementasi kebijakan Pembelajaran Mendalam yang tengah dikembangkan Kemendikdasmen. Dalam pendekatan tersebut, materi pembelajaran disusun lebih fokus, sementara peserta didik didorong memperkaya pemahaman melalui beragam konteks dan pengalaman belajar.
Salah satu bentuk implementasinya ialah pemberian tugas yang tidak lagi hanya berorientasi pada penyelesaian soal, tetapi juga mendorong peserta didik membaca dan menulis. Melalui cara tersebut, literasi diharapkan tumbuh sebagai kebiasaan belajar sekaligus sarana membangun kreativitas dan daya pikir.
"Anak-anak masih kita beri PR. Tapi PR-nya tidak mengerjakan soal. PR-nya membaca buku, PR-nya menulis. Literasi dan numerasi kita galakkan dengan memberi ruang yang lebih banyak untuk anak-anak membaca buku-buku nonteks," jelasnya.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, Kemendikdasmen melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa akan mendistribusikan sekitar 5,5 juta buku bacaan nonteks ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Buku-buku tersebut diharapkan dapat memperkaya bahan bacaan peserta didik sekaligus memperluas ruang imajinasi mereka.
Menteri Mu'ti menuturkan bahwa penguatan literasi tidak hanya berdampak pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membantu peserta didik memahami konteks, memecahkan persoalan, dan mengembangkan karakter melalui pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Selain memperluas akses terhadap bahan bacaan, ia menilai keterlibatan guru memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan minat peserta didik terhadap sastra. Pengalaman pribadinya menunjukkan bahwa kecintaan terhadap puisi tumbuh karena inspirasi yang diberikan guru Bahasa Indonesia sejak di bangku sekolah.
"Teaching is inspiring. Mengajar itu menginspirasi, bukan menggurui," ungkapnya.
Ia juga mendorong sekolah untuk terus menghadirkan ruang-ruang aktualisasi bagi peserta didik melalui kegiatan membaca puisi, menulis karya sastra, lomba, komunitas literasi, maupun aktivitas kreatif lainnya. Menurutnya, ruang-ruang seperti itu dapat menjadi sarana bagi anak untuk menyalurkan kreativitas sekaligus memperkuat kepercayaan diri.
Menutup perbincangan, Mendikdasmen menyampaikan bahwa upaya membangun budaya literasi memerlukan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari sekolah, guru, keluarga, hingga komunitas. Dengan semakin terbukanya ruang berekspresi, termasuk di ranah digital, peserta didik diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan literasi yang baik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, kreatif, dan mencintai budaya bangsa. (**)








