Webinar Literasi Digital
Klikwarta.com, Deli Serdang - Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) menggelar festival literasi digital sektor pendidikan bagi pelajar SMA di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Festival ini diisi Talkshow Literasi Digital yang berlangsung dalam dua sesi, sesi pertama mengusung tema “Menjadi Pengguna Media Sosial yang Bijak, Kreatif, dan Inovatif”, sedangkan sesi kedua bertema “welcoming Gen Alpha : Chance and Challenge in Digital Era”, serta akan dimeriahkan oleh stand up comedy dari Anggi Wahyuda. Festival tersebut telah digelar di Gedung Olahraga Pemkab Deli Serdang pada Sabtu (30/9) pukul 09.00-15.30 WIB.
Program literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bertujuan untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga tahun 2024 menuju Indonesia #MakinCakapDigital. Kegiatan digelar dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital secara positif, produktif, dan aman.
Berdasarkan laporan We Are Social, jumlah pengguna internet di Indonesia pada Januari 2022 mencapai 204,7 juta orang atau meningkat 2,1 juta dari tahun sebelumnya, dan dimana 191,4 juta penggunanya menggunakan media sosial. Namun, penggunaan internet tersebut membawa berbagai risiko, karena itu peningkatan penggunaan teknologi internet perlu diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang baik agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan bijak dan tepat.
Hasil survei Indeks Literasi Digital Nasional yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Katadata Insight Center (KIC), didapatkan skor atau tingkat literasi digital masyarakat Indonesia pada tahun 2022 berada pada angka 3,54 poin dari skala 1-5. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori sedang.
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Semuel Abrijani Pangerapan menilai indeks literasi digital Indonesia belum mencapai kategori baik. “Angka ini perlu terus kita tingkatkan dan menjadi tugas kita bersama untuk membekali masyarakat kita dengan kemampuan literasi digital,” katanya melalui virtual.
Kegiatan festival literasi digital diawali dengan sambutan dari Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Semuel Abrijani Pangerapan, Ketua Tim Literasi Digital Sektor Pendidikan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Bambang Tri Santoso, Ketua Tim Literasi Digital Sumatera Utara Indra Prawira, S.T, M.M, dan Bupati Kabupaten Deli Serdang H. Ashari Tambunan.
Kegiatan festival dengan jumlah siswa 500 tersebut menyuguhkan materi yang didasarkan pada empat pilar utama Literasi Digital yakni kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.
Dalam talkshow literasi digital tersebut akan menampilkan enam narasumber yang terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama menghadirkan Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan Deli Serdang Dr. Jumakir, S. Pd., M. Pd. menyampaikan terkait kecakapan digital, para pelajar harus cakap berdigital agar dapat kreatif dan inovatif dalam menggunakan media sosial. Jumakir menyebut cakap berdigital meliputi mengakses, menyeleksi, memahami, menganalisis, memverifikasi, mengevaluasi, dan mendistribusikan berbagai perangkat keras dan perangkat lunak agar bisa memanfaatkannya secara positif.
“Saatnya melakukan transformasi pembelajaran, dari konvensional ke digital, dari pembelajaran yang monoton ke pembelajaran yang kontekstual dengan memanfaatkan media sosial ke arah yang positif, transformasi pembelajaran menggunakan media sosial jangan pernah terlepas dari karakter Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), P5 ini adalah pedoman kita berperilaku karena di dalamnya bermuatan nilai-nilai Pancasila,” ujar Jumakir.
Narasumber kedua yakni Tenaga Ahli Bidang Koordinator Regional Sumatera Utara Program Keluarga Harapan Kemensos Ivo Nilasari, M.Si membawakan materi budaya digital. Ivo mengatakan penting untuk menjadi pengguna media sosial yang bijak, kreatif, dan inovatif dengan tetap menerapkan nilai-nilai Pancasila sebagai panduan karakter dalam beraktivitas di ruang digital serta perlu berpikir sebelum bertindak agar tidak terjadi hal negatif.
“Kita harus berpikir kritis, jadi berpikir kritis itu adalah kita lihat dulu yang perlu di share yang perlu dikomentari apakah akan melanggar nilai-nilai dari Pancasila? Apakah ini akan melanggar nilai-nilai budaya orang lain atau agama lain atau menyinggung? Nah ini yang harus dipikirkan,” jelas Ivo.
Selanjutnya, influencer sekaligus MUA Juli Agustini, SE tampil menyampaikan bahwa para pelajar harus memiliki etika yang baik dengan ramah dan sopan santun dalam berkomunikasi di ruang digital karena terdapat rekam jejak digital yang akan berpengaruh di masa depan. Untuk itu, rekam jejak digital tersebut harus diisi oleh hal-hal yang positif.
“Kalau kita pernah mengomentari sesuatu hal yang tidak baik, apalagi ucuk-ucuk tentang Pemerintahan atau apapun yang bisa mengakibatkan kerugian buat adik-adik semua, contoh nih, bisa dilaporin Polisi perbuatan tidak menyenangkan, kemudian merusak citra sekolahnya,” kata Juli.
Sedangkan pada sesi kedua, tiga pembicara lainnya tampil mengisi acara. Pembicara pertama Ketua KADIN Deli Serdang/Ketua Yayasan Pendidikan Hajjah Kasih Indonesia Danu Prayitno Siyo, SE menjelaskan bahwa terdapat tantangan dan peluang di era digital. Danu menyebut tantangan di era digital yakni adanya kompetisi, keamanan cyber, mengikuti perkembangan teknologi, dan akuisisi pelanggan. Sedangkan peluangnya meliputi jangkauan global, analisis data, bekerja fleksibel serta otomatisasi. Menurut Danu, para pelajar yang ingin memulai bisnis di era digital harus memanfaatkan teknologi, fokus pada pelanggan, memiliki sikap mudah beradaptasi, dan membangun tim yang kuat sehingga akan mudah berhasil dan berkembang di era digital.
“Adik-adik pun hari ini, tamat nanti dari SMA atau SMP sederajat harus bisa berbisnis, harus bisa berusaha, jangan berpikir harus jadi Pegawai Negeri, ini harus berpikir ‘Wah aku tamat aku harus jadi Pengusaha’, bisa! Manfaatkan teknologi, contoh misal hari ini buat cake, atau buat bolu segala macam, dia bisa sebarkan di media sosial, kan orang order, bayarnya bisa pake transfer atau barcode, nah itu teknologi, ga perlu dicari, didatangi, dijual, buka toko, ga perlu, jadi dipromosikan melalui media digital,” ungkap Danu.
Sementara, pembicara kedua yakni Wakil Ketua RTIK Aceh/ Direktur Kamz Multimedia Adi Khairi Rahimi berbicara terkait etika digital. Adi menuturkan, kita harus menerapkan etika yang baik di dunia digital agar dapat menghindari berbagai konten negatif seperti melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik, pemerasan atau pengancaman, informasi palsu atau hoaks, dan penyebaran kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA. Pentingnya menerapkan etika digital karena terdapat Undang-Undang ITE yang mengikat dan dapat merugikan. Adi menyebut ruang lingkup etika yakni kesadaran, tanggung jawab, integritas, dan kebajikan.
“Kita perlu sadar, ketika kita membuka HP kita, kita menerima informasi, tanpa sadar kita meneruskan, jadi perlu kesadaran dulu, selanjutnya, perlu tanggung jawab, kemauan menanggung konsekuensi atas apa yang sudah dilakukan, selanjutnya perlu integritas, butuh kejujuran, di internet banyak karya, jangan pernah mengcopy atau mengambil, jangan plagiat karya seseorang, dan kebajikan, mengisi dengan hal yang bermanfaat serta kebaikan,” ujar Adi.
Tampil sebagai pembicara terakhir, seorang influencer Gita Aisyah Risa, S.E mengatakan, terdapat banyak potensi buruk di ruang digital jika kita menyebarkan data privasi yang bersifat rahasia. Untuk itu, diperlukan pemahaman terkait keamanan digital, para pengguna harus memiliki kesadaran untuk melindungi data pribadi di ruang digital.
“Tahun 2015 Instagram saya sempat di hack, pada saat itu followers saya 50rb, selanjutnya saya gak bisa kerja dan gak bisa menerima endorse endorse lagi, karena itu pemasukan yang lumayan menurut saya di saat saya masih kuliah, itu lah, saya merasa teledor karena saya menuliskan gmail saya di bio Instagram, ternyata tidak boleh, karena gmail itu bisa di hack ya, privasi juga,” kata Gita.
Di akhir sesi kegiatan, para peserta diberikan kesempatan mengajukan pertanyaan yang dijawab langsung oleh narasumber. Seluruh rangkaian acara dipandu oleh moderator Laila Sari, S.Psi.,M.Pd. dan dipandu pembawa acara (MC) Lisam Suliyati.
Adapun Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan info literasi digital dapat diakses melalui media sosial Instagram @literasidigitalkominfo, Facebook Literasi Digital Kominfo, Youtube @literasidigitalkominfo serta website literasidigital.id.








