Sosialisasi pengolahan lahan bersama Kelompok Wanita Tani Sari Makmur
Klikwarta.com, Yogyakarta - Tim Program Peningkatan Kapasitas (PPK) Ormawa Universitas Gadjah Mada yang berasal dari Keluarga Mahasiswa Muslim Pertanian (KMMP) melakukan pembinaan terhadap Kelompok Wanita Tani (KWT) Sari Makmur di Desa Bangunkerto, Turi, Sleman.
Pemberdayaan KWT ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui usaha pertanian yang terintegrasi dengan agrowisata. Kegiatan dilaksanakan selama lima bulan terhitung sejak bulan Juli hingga November 2022 mendatang.
Tim PPK KMMP sendiri beranggotakan tiga belas mahasiswa dari berbagai program studi di Fakultas Pertanian yang dibimbing oleh dosen pembimbing Bapak Taufan Alam, S.P., M.Sc.
Latar belakang dilakukannya kegiatan pemberdayaan KWT ini adalah karena adanya masalah penurunan nilai ekonomi yang diakibatkan oleh rendahnya harga jual buah salak yang memang sudah sejak lama menjadi komoditas andalan di Desa Bangunkerto. Disamping itu, kondisi juga diperparah dengan mulai tidak aktifnya pergerakan komunitas perempuan di Desa Bangunkerto. Kejadian tersebut merupakan buntut panjang dari adanya pandemi Covid-19.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2022, produksi salak di Kecamatan Turi dapat mencapai 31.246 kuintal. Namun, harga jualnya sangat rendah, yang mana hal tersebut menjadikan petani di Turi mencari alternatif lain untuk tetap dapat menjalankan roda perekonomiannya.
Di sisi lain, UMKM yang mengolah buah salak menjadi makanan olahan juga mengalami kendala pada bagian marketing dan manajemen. Permasalahan tersebut semakin parah dengan adanya pandemi Covid-19 yang menyebabkan turunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke agrowisata Bangunkerto.
Adanya pandemi juga menurunkan kualitas SDM di daerah Bangunkerto karena kegiatan masyarakat menjadi terbatas dan sulit dilakukan. Maka dari itu, diperlukan sebuah solusi yang holistik untuk memecahkan permasalahan tersebut.
Oleh karena itu, guna mengatasi permasalahan tersebut, melalui program PPK Ormawa KMMP UGM melaksanakan berbagai program mingguan untuk menghidupkan kembali KWT Sari Makmur di Desa Bangunkerto sekaligus mempertahankan eksistensi buah salak sebagai produk buah khas di Sleman melalui diversifikasi olahan salak. Salah satu terobosan program yang dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan budidaya sayur yang diintegrasikan dengan penanaman tanaman obat.
Pelaksanaan program dilakukan secara komprehensif mulai dari kegiatan pendampingan, pelatihan pengolahan lahan hingga penanaman tanaman, pendampingan kegiatan penanaman bibit, hingga sosialisasi mengenai tanaman obat dan pengolahannya menjadi produk jamu sederhana.
Kegiatan pelatihan pertanian dilakukan secara langsung di lahan KWT yang meliputi edukasi tentang cara pengolahan lahan, perawatan tanaman, dan pemanenan. Pada kegiatan ini, tanaman sayur dan obat-obatan dipilih untuk dijadikan fokus utama. Sayuran seperti terong dan sawi dipilih karena perawatan tanaman dan pengolahannya yang relatif mudah sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran yang sesuai untuk kelompok wanita tani. Sementara tanaman obat dipilih karena masih kurangnya pembudidayaan tanaman obat di daerah Turi dan sekitarnya.
Selain faktor novelty, tanaman obat juga dinilai dapat memberikan nilai tambah yang cukup besar apabila diolah sebagai jamu atau bahan pelengkap makanan yang bisa dijual.
Terkait penggunaan lahan, lahan KWT yang dipakai merupakan kawasan bekas kebun salak seluas tujuh ratus meter persegi yang sudah tidak lagi digunakan karena dirasa tidak menguntungkan lagi karena tak mampu memberikan hasil panen yang menjanjikan.
Lahan ini dikelola secara kolektif oleh anggota KWT yang berjumlah sekitar tiga puluh orang dengan dibantu oleh anggota KMMP UGM. Letak lahan yang dekat dengan pemukiman warga dan dekat dengan sumber air menjadikan lahan tersebut menjadi tempat yang sangat cocok sebagai wahana pembelajaran praktek budidaya pertanian.
Dalam pelaksanaannya, antusiasme dan komitmen Kelompok Wanita Tani Sari Makmur di Desa Bangunkerto, khususnya Dusun Bangunsari, sangat terlihat jelas ketika mengikuti kegiatan sekolah perempuan ini. Ibu Sumartinah selaku ketua KWT Sari Makmur menilai bahwa program ini sangat bermanfaat dan datang pada waktu yang sangat tepat. Beliau mengungkapkan bahwa komunitas perempuan yang dipimpinnya baru saja ingin memulai kegiatan kembali setelah sekitar dua tahun tidak aktif karena pandemi Covid-19.
Maka dari itu, Ibu Sumartinah mengaku sangat bersyukur bahwa KWT Sari Makmur diberikan kesempatan untuk dibina oleh mahasiswa UGM. Beliau berharap semoga kegiatan PPK Ormawa yang dilakukan KMMP di Bangunkerto dapat menghidupkan kembali komunitas perempuan pada masa kejayaannya seperti sebelum pandemi.
Dengan adanya pelaksanaan-pelaksanaan program tersebut harapannya KWT di Desa Bangunkerto dapat aktif kembali sehingga kapasitas KWT dan kesejahteraan warga desa Bangunkerto dapat meningkat “Program PPK ini merupakan momentum yang sangat tepat bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman nyata mengabdi pada masyarakat dan mencoba memecahkan suatu isu aktual melalui pendekatan holistik dan kolaboratif,” imbuh Garudhea Iwangga, ketua Pelaksana PPK Ormawa KMMP 2022. (*)








