Literasi Digital Bekali Pelajar SMA di Prabumulih Tentang Etika Berjejaring

Jumat, 25/08/2023 - 23:21
Webinar Literasi Digital

Webinar Literasi Digital

Klikwarta.com, Sumsel - Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) kembali menggelar webinar literasi digital untuk sektor pendidikan wilayah Sumatera bagi siswa/siswi SMA di Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan webinar ini mengangkat tema “Etika berjejaring: Jarimu Harimaumu!” dan telah berlangsung pada Jumat (25/8) pukul 14.00-16.00 WIB.

Program literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bertujuan untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga tahun 2024 menuju Indonesia #MakinCakapDigital. Kegiatan digelar dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital secara positif, produktif, dan aman.

8

Berdasarkan laporan We Are Social, jumlah pengguna internet di Indonesia pada Januari 2022 mencapai 204,7 juta orang atau meningkat 2,1 juta dari tahun sebelumnya, dan dimana 191,4 juta penggunanya menggunakan media sosial. Namun, penggunaan internet tersebut membawa berbagai risiko, karena itu peningkatan penggunaan teknologi internet perlu diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang baik agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan bijak dan tepat.

Hasil survei Indeks Literasi Digital Nasional yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Katadata Insight Center (KIC), didapatkan skor atau tingkat literasi digital masyarakat Indonesia pada tahun 2022 berada pada angka 3,54 poin dari skala 1-5. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori sedang.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Semuel Abrijani Pangerapan menilai indeks literasi digital Indonesia belum mencapai kategori baik. “Angka ini perlu terus kita tingkatkan dan menjadi tugas kita bersama untuk membekali masyarakat kita dengan kemampuan literasi digital,” katanya melalui virtual.

Kegiatan webinar dengan jumlah siswa 450 tersebut menyuguhkan materi yang didasarkan pada empat pilar utama Literasi Digital yakni kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Dalam kegiatan tersebut menampilkan sejumlah narasumber, narasumber pertama yakni Founder Yayasan Komunitas Open Source, Arief Rama Syarif membawakan materi keamanan digital. Arief mengatakan bahwa terdapat banyak potensi buruk di internet jika kita menyebarkan data pribadi yang bersifat rahasia. Untuk itu, diperlukan pemahaman terkait keamanan digital, para pengguna harus memiliki kesadaran untuk melindungi data pribadi di ruang digital.

“Pertama, tanggal lahir, sangat disayangkan, coba lihat, siapa lebih dari 400 orang di sini yang ulang tahun gak foto-foto dan gak dimasukkan ke instagram? Kalaupun gak masukin ke instagram, tapi di tag sama temannya di instagram sambil tulisannya ‘selamat ulang tahun’, lho sama saja, agama, siapa yang lebaran, yang natalan kemarin gak foto-foto? Itu padahal rahasia lho, tapi kita berikan ke sosial media, alamat, jumlah anggota keluarga, sama ya, seperti lebaran tahun lalu, tahun ini nih, siapa yang gak foto keluarga waktu lebaran? Tuh liat, terus kita share di sosial media, kalau umpama saya berteman dengan mas Hafizh sebagai moderator, saya bisa tahu jumlah keluarga mas Hafizh, agamanya apa, tanggal lahirnya kapan, lho, padahal itu rahasia,” ujar Arief.

Giliran narasumber kedua, Freni Listiyan, S.Pd, selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Prabumulih yang berbicara terkait etika digital. Menurut Freni, para pengguna harus memiliki etika di ruang digital dengan menjaga sopan santun ketika berkomunikasi dan membatasi diri dari komentar negatif, karena komentar negatif dapat membuat orang lain tidak percaya diri.

“Komentar negatif itu umumnya berupa kata-kata yang menyudutkan pemilik akun yang seperti tadi ‘ah jijik banget’ gitu ya, kemudian ‘ah gendut banget sekarang kamu ya, make up nya norak banget’ atau ‘kenapa ini banyak filternya ini bukan cantik asli’, komentar-komentar seperti itu yang menyudutkan itu dapat membuat mental pemilik akun itu terganggu,” jelas Freni.

Selanjutnya pembicara terakhir, seorang presenter dan key opinion leader, Reni Risti Yanti tampil menyampaikan bahwa perlu bijak ketika berada di ruang digital karena terdapat Undang-Undang ITE yang mengikat, serta harus menghindari cyber bullying atau perundungan di dunia digital dengan cara berpikir dahulu sebelum berkomentar terhadap sesuatu.

“Kira-kira, ketikan saya ini kalau itu ditujukan kepada saya, itu saya tersinggung gak, kalau kira-kira ditujukan ke saya dan saya tidak tersinggung, oh yaudah gak apa-apa saya akan kirimkan itu sebagai bentuk kritikan saya, tapi kalau kira-kira ketika saya mau ngetik ini nih, saya aja ngerasanya tersinggung banget nih kalau misalnya ada orang yang berbuat kaya gini, ya mendingan gak usah, kan gak semua urusan di media sosial tuh harus jadi urusan kita ya,” kata Reni.

Di akhir sesi webinar, para peserta diberikan kesempatan mengajukan pertanyaan yang dijawab langsung oleh narasumber. Seluruh rangkaian acara dipandu oleh moderator Hafizh Dzaki.

Adapun Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan info literasi digital dapat diakses melalui media sosial Instagram @literasidigitalkominfo, Facebook Literasi Digital Kominfo, Youtube @literasidigitalkominfo serta website literasidigital.id. (*)

Berita Terkait