Para Pemain Jaran Kepang
Klikwarta.com, Bengkulu Utara - Paguyuban Turonggo Seto Ngesti Luhur memiliki sanggar kesenian kuda lumping yang akrab juga dengan sebutan jaran kepang atau jatilan.
Kesenian kuda lumping merupakan kesenian daerah Jawa dengan tarian tradisional menampilkan sekelompok prajurit yang menunggangi kuda. Kuda tersebut terbuat dari bambu atau rotan yang dianyam dan dibentuk menyerupai kuda aslinya.
Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog.
Kusman Buyung sekretaris Desa Gunung Payung Kecamatan Pinang Raya menyampaikan, Paguyuban Turonggo Seto Ngesti Luhur milik Desa Gunung Payung, dipawangi oleh Sularto dan Suroyo serta diketuai oleh Katno. Kuda lumping tersebut pernah ada namun vakum di karenakan keterbatasan pemain dan peralatan, namun dengan hasil koordinasi antara pemerintah desa dan karang taruna yang di ketuai Sutrisno, membangkitkan kembali seni budaya tersebut.
"Alhamdulilah sekarang bangkit kembali dan di tahun 2019 ini pemerintah desa menguncurkan dana desa sebagai pendukung seni budaya tersebut peguyuban berdiri sejak 1992 di kelol oleh para sesepuh suku jawa", ujar Kusman Buyung Rabu (17/7/2019).
Kusman Buyung menambahkan menarik nya sang penari bukan saja dari suku Jawa, ada Pekal, Batak dan Jawa.
"Ini yang sebenarnya harus kita support karena menyatunya tiga suku yang berdampak positif untuk generasi kita kedepannya. Sementara ityu, saat ini pemerintah desa juga sedang berkoordinasi dengan pihak adat akan menghidupkan seni budaya adat PEKAL seperti Gandai, Berdendang, yang saat berbarengan sudah kita angarkan melalui dana desa yaitu, pembelian Robana, Kecapi, Sound Sistem, Serunai dan baju adat", tutup Kusman Buyung. (Suradi)








