Mengenal Tari Tumbu Tanah dari Papua Barat

Selasa, 21/06/2022 - 15:20
Ilustrasi budaya Papua. Sumber: Pixabay

Ilustrasi budaya Papua. Sumber: Pixabay

Oleh: Quldyah Viga Dwikantati (Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta)

Indonesia terkenal dengan ragam budaya dan suku bangsanya. Keragaman budaya itu melahirkan banyak prosesi adat yang unik dan beragam, salah satunya adalah Tari Tumbu Tanah dari Provinsi Papua Barat. Tari ini sering digunakan untuk menyabut tamu undangan yang datang ke Manokwari, khususnya daerah masyarakat Arfak. Sebenarnya apa itu Tari Tumbu Tanah yang dilakukan masyarakat suku Arfak tersebut?

Tari Tumbu Tanah merupakan salah satu tari tradisional yang berasal dari masyarakat Arfak di Manokwari, Papua Barat. Tarian ini seringkali dipertunjukkan untuk menyambut acara-acara penting, atau menyambut tamu dari luar lingungan masyarakat Arfak. Selain itu Tari Tumbu Tanah juga sering digunakan pada saat prosesi perayaan pernikahan ataupun merayakan kemenangan perang.

“Paling sering Tari Tumbu Tanah diadakan untuk menyambut kedatangan orang luar untuk menghormati dan sebagai perwujudan rasa senang kedatangan tamu,” ujar Manuel.

Tari Tumbu Tanah biasanya dibawakan secara beramai-ramai dengan peserta yang tidak terbatas jumlahnya. Tarian ini juga termasuk dalam tari kelompok dan bisa diikuti oleh semua lapisan masyatakat, baik tua maupun muda dapat berbaur dalam satu tarian dan menari bersama-sama.

Nama Tari Tumbu Tanah bermula saat agama Kristen pertama kali masuk ke tanah Papua melalui Mansiman. Pada saat itu tidak hanya misi penginjilan saja yang dijalankan, namun juga membangun berbagai sarana dan prasarana untuk kegiatan permasyarakatan. Hal tersebut mengubah peradaban masyarakat Papua pada saat itu. Nama Tari Tumbu Tanah diambil dari bahasa Indonesia agar penyebutannya mudah dan bisa dikenal oleh masyarakat di luar suku Arfak.

Asal-usul Tari Tumbu Tanah berasal dari mitologi atau legenda masyarakat Arfak yaitu Jambu Mandatjan di Kampung Ndui. Legenda ini menceritakan tentang perebutan penguasaan kepemilikan satu pohon jambu yang telah dibagi berdasarkan marga di Manokwari.

Ketika perebutan pohon jambu tersebut, seorang anak melepaskan anak panah dan mengenai seekor burung. Hal itu menjadi awal mula keributan antarsuku. namun setelah sekian lama, suku-suku tersebut berkeinginan untuk bersatu kembali dan mengadakan acara cintakuek (pesta makan) serta turut mengundang berbagai suku yang tersebar di wilayah Arfak.

Saat itu para tuan rumah dari suku Arfak berdiri dan mulai melompat-lompat di tempat, lalu diikuti oleh semua tamu undangan sehingga terbentuklah gerakan menghentakkan kaki di tanah. Selain bergerak dengan melompat-lompat, mereka juga bersepakat untuk menggandeng satu sama lain dan berteriak sebagai bentuk ungkapan perasaan bahagia karena bisa berkumpul kembali. Rangkaian gerakan tersebutlah yang akhirnya menjadi tarian Tumbu Tanah.

Sebagai salah satu warisan budaya yang unik dan bermakna, Tari Tumbu Tanah harus selalu dilestarikan. Para generasi muda, terutama masyarakat suku Arfak harus melakukan tradisi tari ini untuk acara-acara penting. Tujuannya agar Tari Tumbu Tanah tidak tenggelam seiring perkembangan zaman yang makin modern.

Berita Terkait