Sambangi Wakatobi, Wamendikdasmen Fajar Tegaskan MPLS Ramah Jadi Fondasi Karakter Murid

Kamis, 16/07/2026 - 19:38
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq

Klikwarta.com, Wakatobi - Hari-hari pertama di sekolah bukan hanya masa beradaptasi di kelas, guru, dan teman baru. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi pijakan awal untuk mengenal nilai, budaya aman dan nyaman, serta karakter yang akan membentuk perjalanan belajar murid selama belajar di sekolah tersebut. Komitmen inilah yang ditunjukkan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, saat meninjau pelaksanaan MPLS Ramah di SMP Negeri 1 Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (16/7).

Dalam suasana yang hangat, Wamen Fajar mengajak 60 murid baru berdiskusi tentang cita-cita, pengalaman mengikuti MPLS, hingga makna bersekolah. Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membangun karakter.
 
"Salah satu tujuan kita sekolah adalah melatih supaya kita jujur. Berikutnya supaya pintar, mengembangkan bakat, dan meraih cita-cita," ujar Wamen Fajar.
 
Ia melanjutkan bahwa MPLS bukan hanya mengenalkan ruang kelas atau tata tertib sekolah. Lebih dari itu, MPLS adalah awal pembentukan karakter, tempat murid belajar menghargai teman, menghormati guru, mencintai sekolah, dan menyiapkan masa depan
 
Semangat membangun lingkungan belajar yang sehat di SMP Negeri 1 Wangi-Wangi Selatan juga tercermin dalam budaya sekolah yang selama ini telah dijalankan. Sekolah mengintegrasikan pendidikan konservasi dalam pembelajaran, membiasakan peserta didik membawa botol minum, memilah sampah organik dan anorganik, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta mendorong berbagai kegiatan yang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
 
Ketua Panitia MPLS SMP Negeri 1 Wangi-Wangi Selatan, Sariono, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan disusun mengacu pada panduan MPLS Ramah yang diterbitkan Kemendikdasmen.
 
"Pelaksanaan MPLS mengacu pada panduan resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Selain itu, kami menyesuaikannya dengan karakteristik daerah melalui Kurikulum Eduwisata yang mengintegrasikan aspek lingkungan, budaya, dan pariwisata," ujarnya.
 
Ia menambahkan bahwa sekolah telah mendeklarasikan diri sebagai Sekolah Ramah Anak sejak tiga tahun lalu sehingga seluruh guru berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari perpeloncoan maupun segala bentuk kekerasan.
 
Budaya tersebut selaras dengan semangat MPLS Ramah yang tidak hanya membantu murid baru mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga memperkenalkan kebiasaan-kebiasaan baik yang menjadi identitas sekolah. Sejak hari pertama, peserta didik diajak memahami bahwa sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu pengetahuan, melainkan juga ruang untuk membangun karakter, kepedulian terhadap sesama, serta tanggung jawab terhadap lingkungan.
 
Bagi para murid baru, suasana tersebut memberikan kesan positif sejak hari pertama mereka menjadi bagian dari keluarga besar sekolah. Salah seorang peserta didik baru, Citra Prisana Fitra Ode, mengaku semakin percaya diri mengikuti MPLS karena suasana sekolah yang hangat.
 
"Saya sangat senang dan gembira. Teman-teman sangat antusias sehingga membuat saya semakin percaya diri. Yang paling berkesan adalah guru-gurunya baik dan ramah," tuturnya.
 
Usai berdialog dengan para murid, Wamendikdasmen meninjau hasil program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang telah diterima sekolah. Bantuan revitalisasi tersebut mencakup pembangunan ruang administrasi guru, toilet, dan ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih nyaman dan layak. (**) 

Berita Terkait