Roots Day dan Pentas Karya P5BK SMKN 1 Rejotangan Menciptakan Sekolah Anti Perudungan

Selasa, 12/10/2021 - 15:07
Roots Day dan Pentas Karya P5BK SMKN 1 Rejotangan Menciptakan Sekolah Anti Perudungan

Roots Day dan Pentas Karya P5BK SMKN 1 Rejotangan Menciptakan Sekolah Anti Perudungan

Klikwarta.com, Tulungagung – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Rejotangan Kabupaten Tulungagung, menggelar karya profil pelajar pancasila dan sekolah anti perundungan. Program tersebut terinisiasi dari Direktorat Jenderal Advokasi dan Unicef dalam bentuk The Toot.

Kepala Sekolah SMK 1 Rejotangan, Masrur Hanafi mengatakan, bahwa dirinya senantiasa selalu mendukung langkah-langkah Kemendikbud dalam  menghasilkan tenaga kerja yang unggul apalagi dengan program-program pergelaran karya.

“Tentunya kami sangat mendukung penuh adanya program seperti ini yang membuat siswa-siswi kita terampil, dan kompeten sehingga dapat meningkatkan daya saing industri,” katanya, Selasa (12/10/21).

Masrur menerangkan, bahwa SMK Negeri 1 Rejotangan saat ini telah ditunjuk menjadi salah satu sekolah yang mendapatkan program sebagai Sekolah Pusat Keunggulan.

SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) merupakan program pengembangan SMK dengan kompetensi keahlian tertentu dalam peningkatan kualitas dan kinerja, sekaligus sebagai SMK penggerak memberikan suatu kebebasan anak dalam mencari jati dirinya.

“Jadi siswa-siswi SMK 1 Rejotangan cara belajarnya dengan caranya sendiri untuk bisa dia menemukan jati diri belajar sepanjang  hayatnya, yang diperkuat melalui kemitraan dan penyelarasan dengan dunia usaha, dunia industri, dunia kerja, yang akhirnya menjadi SMK rujukan yang dapat berfungsi sebagai sekolah penggerak dan pusat peningkatan kualitas dan kinerja SMK lainnya,” katanya. 

Adapun untuk profil pelajar pancasila ini, kata Masrur, suatu program dalam menciptakan softskill suatu ranah afektif, sikap yang beraklak mulia dan berjiwa gotong royong dan kebhinekaan yang global.

“Artinya ini menyangkut seluruh dunia, mengingat sekarang diera digital, jadi disitulah konten konten yang kadang itu kita harus bisa menyaring dan juga harus bisa memahami tentang ada sesuatu yang berbeda antara satu orang dengan orang lain,” katanya. 

“Kemudian tentang jiwa kreatif anak kreatif kreativitas dan inovatif terus jiwa mandiri yakni suatu program di SMK PK yang sekaligus sebagai SMK yang bertujuan untuk menciptakan sop sederhana yang linier sesuai kebutuhan dengan kebutuhan budaya kerja di tempat bekerja atau istilah (DUDIKA), Dunia usaha, Dunia industri dan kerja, jadi pada anak saat sebelum lulus dia sudah tahu apa yang dikerjakan pada tempat kerjanya sesuai bidangnya,” imbuhnya. 

Masrur juga menyebut, bahwa di SMK 1 Rejotangan memliki fasilitator guru-guru yang sudah didiklat oleh direktorat SMK P5BK.

Untuk itu profil pelajar Pancasila, tentunya sudah punya kader siswa sebanyak 32, sedangkan bagi guru sudah punya dua kader guru dan ditambah 12 guru, yang bertugas memberikan mentor kepada guru yang lain.

“Pada saat kita melakukan proses pembelajaran itu menurutnya bisa mengutamakan soft skill The root yaitu saat dia melakukan pembelajaran harus  bersifat bagaimana anak itu belajar berpusat pada dirinya bukan guru untuk menerangkan dengan 1 anak tetapi anak bisa eksplorasi diri tidak boleh menekan pada yang penting lagi,” ujarnya. 

Selain itu, lanjut Masrur, program pengembangan karya siswa ini akan menjadi suatu Pokja baru yang bertujuan untuk mendiagnosa kebutuhan orang tua, harus sinkron dengan minat anak dan minat orang tua.

“Nanti kita sinkronkan dengan kebutuhan DUDIKA, maka antara orang tua dan anak dan DUDIKA ini harus sesuai yang diperlukan, karena analisa sering terjadi anak selaku pekerja, 3 bulan tidak betah masalah pekerjaan pulang, akhirnya kerja serabutan, maka jangan terjadi seperti itu, akhirnya opini yang terbentuk, SMK Rejotangan tidak siap mentalnya,” katanya. 

“Maka tidak sesuai dengan softskillnya, yang kedua jadi suatu proses pendidikan ini satu minggu sekali setiap hari Sabtu ini ada guru-guru baru guru-guru induksi yang membimbing apa itu eksplorasi suatu kemerdekaan timbul suatu eksplorasi improvisasi dari dirinya sendiri,” sambungnya. 

Adapun dalam pusat pengembangan karir siswa-siswi, kata Masrur, pihaknya memfokuskan tentang bagaimana mendiagnosa, supaya tidak terjadi salah paham antara orang tua dan sekolah.

“Jadi orang tua menghendaki anaknya bekerja sesuai keinginanya, namun anaknya tidak sesuai, untuk itu dengan pihaknya membentuk pukjabar, yang tujuannya adalah mendiagnosa minat bakat,” tutupnya. 


(Pewarta : Didik)

Berita Terkait