Mahasiswa UMM dalam praktek perkuliahan
Klikwarta.com, Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukir sejarah di panggung internasional. Pada tahun 2026, Kampus Putih secara resmi ditetapkan sebagai mitra strategis global melalui status UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem.
Pencapaian tersebut menempatkan UMM dalam jajaran elit pendidikan dunia, menjadikannya satu dari hanya tiga kampus di Indonesia yang dipercaya mengemban amanah besar tersebut.
Penetapan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari konsistensi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi menjelaskan, inovasi adalah harga mati bagi perguruan tinggi yang ingin berdampak.
“Visi kami bukan sekadar menjadi menara gading. Kami ingin setiap riset di laboratorium memiliki kaki untuk berjalan dan memberikan solusi nyata bagi krisis global,” ungkap Salis dalam siaran pers yang diterima pada Jumat (17/4).
Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM kini memotori tiga program strategis untuk keberlanjutan air. Salah satu jejak paling nyata adalah penyelamatan kawasan Subak, Bali. Saat itu, krisis air dan alih fungsi lahan mengancam kedaulatan pangan lokal. UMM hadir dengan teknologi smart farming untuk memulihkan kesehatan tanah yang rusak akibat zat kimia.
“Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada tahun 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” jelas Salis lebih lanjut.
Tak berhenti di Bali, UMM juga melebarkan sayap ke Indonesia Timur. Sebanyak 52 akademisi diterjunkan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memetakan sumber air baru dan membangun ketahanan pangan. Proyek ini kian ambisius dengan pengembangan teknologi desalinasi air laut bertenaga surya untuk menjawab kebutuhan air bersih masyarakat pesisir.
Di sektor energi, UMM telah lama menjadi pionir melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang memanfaatkan aliran Sungai Brantas. Fasilitas ini tidak hanya menjadi sumber listrik ramah lingkungan bagi kampus, tetapi juga telah dikembangkan di berbagai lokasi ekowisata seperti Sumber Maron dan Boon Pring Turen.
Bagi Salis dan keluarga besar UMM, pengakuan dunia ini adalah bentuk dakwah lingkungan yang berlandaskan nilai Islam Berkemajuan. Ia menekankan pentingnya warisan bagi generasi mendatang agar tetap bisa menikmati bumi yang layak huni.
“Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya. Inilah tugas kemanusiaan yang sebenarnya,” pungkas Salis.
(Kontributor : Arif)








