Siasat Ninonk Ubah Pola Pangan di Labuan Bajo: Untungkan Petani, Berdayakan Ibu Rumah Tangga

Rabu, 01/07/2026 - 18:49
Pasar Murah Bawang Merah

Pasar Murah Bawang Merah

 Labuan Bajo, Klikwarta.com — Sebuah gebrakan nyata dalam tata niaga pangan lokal lahir dari inisiatif seorang pengusaha asal Labuan Bajo yang akrab disapa Ninonk. Di tengah jeritan masyarakat akibat melambungnya harga bahan pokok, Ninonk membuktikan bahwa harga pangan bisa ditekan drastis tanpa harus mengorbankan kesejahteraan petani.

Pada Senin (29/6/2026), ia menggelar pasar murah bawang merah di Labuan Bajo dengan harga yang bikin geleng-geleng kepala: hanya Rp25.000 per kilogram. Angka ini berbanding jauh dengan harga pasar yang biasanya mencekik dompet warga di kisaran Rp40.000 per kilogram.

Namun, daya tarik aksi ini bukan sekadar selisih harga Rp15.000 yang dinikmati konsumen. Ini adalah cerita tentang keberhasilan memutus "gurita" mata rantai distribusi yang selama ini terlalu panjang dan merugikan.

"Selama ini masyarakat membeli bawang merah sekitar Rp40 ribu per kilogram. Hari ini kami menjual Rp25 ribu supaya masyarakat bisa merasakan harga yang lebih murah. Di sisi lain, petani juga tetap mendapatkan harga yang layak karena kami membeli langsung dari mereka," ungkap Ninonk.

Berdayakan Ibu Rumah Tangga

Menariknya, dampak ekonomi dari gerakan ini langsung dirasakan oleh akar rumput. Ninonk tidak bekerja sendiri. Dalam proses pascapanen, ia sengaja melibatkan sejumlah ibu rumah tangga setempat untuk menyortir dan membersihkan bawang merah sebelum dilempar ke pasar murah. Langkah ini otomatis membuka keran penghasilan baru bagi dapur warga sekitar.

Bagi Ninonk, apa yang dilakukannya adalah sebuah kritik terbuka terhadap sistem perdagangan komoditas pertanian yang usang. Selama ini, mata rantai tengkulak yang menggurita membuat petani dipaksa menerima harga rendah, sementara konsumen di ujung rantai harus membayar sangat mahal.

Dengan pola direct buying atau pembelian langsung dari petani, biaya logistik dan komisi perantara yang tidak perlu bisa dipangkas habis. Hasilnya? Petani mendapat kepastian harga yang adil, konsumen mendapat harga yang masuk akal, dan warga lokal mendapatkan lapangan kerja dadakan.

"Harapan kami sederhana. Petani harus sejahtera karena hasil panennya dihargai dengan baik. Masyarakat juga berhak mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau. Kalau rantai distribusi dipersingkat, dua-duanya bisa sama-sama diuntungkan," tambahnya.

Inisiatif dari sudut Labuan Bajo ini menjadi tamparan sekaligus contoh konkret bahwa pembenahan pangan tidak melulu harus menunggu kebijakan besar dari pusat. Keberanian lokal untuk merombak mekanisme pasar terbukti mampu menghadirkan keadilan ekonomi yang nyata bagi produsen maupun konsumen.


Penulis : Kordianus Lado

Berita Terkait